UMY_VOC - Tepat di hari Kamis tanggal 30 April 2009 kemarin, Ibu Muria Endah genab berusia 33 tahun. Dosen yang satu ini terlihat sangat care dan dekat dengan mahasiswanya. Tentu saja anak-anak kelas A jurusan Ilmu Komunikasi tidak tinggal diam. Mereka segera memutar otak setelah mengetahui bahwa hari jadinya bertepatan dengan jadwal mengajarnya di kelas A . Rencana telah tersusun rapi eksekusi - pun siap dilaksanakan.
Di dalam kelas, yaitu di ruang e.1.7 jam 12.30, anak-anak mulai berakting. Berbagai macam cara dilakukan untuk memancing emosi dosen komunikasi massa ini. Dari telat masuk kuliah, kelas yang tidak conducive, ribut di kelas, dll. Usaha ini tidak sia-sia, Ibu Muria sempat terpancing emosinya. Ketika dirasa sudah cukup untuk mengusilinya, anak-anak kelas A membuka aktingnya. Mahasiswa datang membawa sebuah kue kecil dengan lilin diatasnya sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Setelah itu mahasiswa bergantian menyelamati dosen kita ini.
Beliau terlihat sangat terkejut dan senang. Dia pun mengakui sempat speechless setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Walau rencana mengerjai Bu Muria ini sempat berubah dari rencana awal dan beliau pun sempat curiga, tetapi semua dapat berjalan dengan lancar. Ini sebagai tanda kasih sayang kita terhadap para dosen. “Terimakasih atas kejutannya”, ujarnya di sela-sela pelajaran. (Feraditha NK)
Dosen yang satu ini adalah salah satu dosen pertama yang mengajar di komunikasi UMY. Mahasiswa mengenal dosen lulusan S1 komunikasi UGM ini sebagai dosen yang tegas, disiplin, dan sangat stylish. Dosen yang selalu pede dengan penampilannya ini, mempunyai sedikit cerita mengapa memilih komunikasi dan menjadi dosen. Sebenarnya beliau ingin mengambil psikologi tetapi karena sedikit buta warna, beliau mengambil jurusan komunikasi. Karena komunikasi yang paling dekat dengan psikologi dan selalu berhubungan dengan orang. Walaupun pada saat itu komunikasi identik dengan jurnalistik tetapi beliau yakin bahwa ilmu ini akan berkembang. Hal ini didukung dengan diterimanya beliau di UGM tanpa tes sehingga sangat sayang bila dilepas.
Setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di UGM , beliau pernah bekerja sebagai ilustrator di sebuah media di Jakarta. Karena latar belakang keluarga semuanya dosen, orang tua tidak mengijinkan akhirnya beliau mendaftarkan diri menjadi dosen komunikasi yang kebetulan di UMY membuka pendaftaran. Sampai sekarang beliau juga masih eksis mengajar.
Perempuan kelahiran Yogyakarta 3 Maret 1969 ini mempunyai hobby yang unik,” Memelihara kucing”. Berangkat dari hobinya inilah beliau kerap mengikuti berbagai workshop yang bersangkutan dengan kucing. Kecintaannya pada hewan lucu berkumis ini membuat beliau selalu memberikan perhatiannya kepada empat ekor kucing yang dimilikinya, sehingga beliau menjadi sedikit terhibur dibalik kesibukannya dan bahkan berencana membuka bisnis peternakan kucing. Dosen yang acap kali dipanggil “Miss Sovie “ dengan teman sejawatnya ini juga hobby berolahraga yaitu fitness. Beliau menyempatkan diri seminggu 3kali untuk melakukan kegiatan yang menyehatkan ini. Dosen yang selalu pede dengan penampilannya ini juga mempunyai keinginan berbisnis seputar kegiatan tersebut. Beliau berencana membuka gym, hal ini didukung dengan lengkapnya alat-alat fitness yang dimilikinya.
Beliau juga mengaku, bahwa pertemuannya dengan sang mantan pacar di UMY adalah karena “kesasar membawa berkah”. Sang suami yang awalnya adalah salah satu dosen di UMY, pada akhirnya memilih berkarier sebagai musisi. Hal ini juga masih menyisakan rasa penasaran ibu yang satu ini karena mendapatkan pendamping hidup yang background-nya berbeda jauh dengan dirinya. “Iya, saya juga masih bingung…kok bisa ya? Wah, kesasar membawa berkah.” Cerita bu Sovi sambil tersenyum simpul.(Triska April Melia).
Mengawali karier sebagai dosen pada tahun 1996 di Universitas Mercubuana Yogyakarta, telah membawa ibu yang satu ini menjadi Dosen PNS(Pegawai Negeri Sipil-red) di tahun 2005. Multi talent woman, itulah beliau, Ibu Yeni Rosilawati. Dikenal dengan sapaan “Bu Yeni”, beliau mengawali karier PNS-nya sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada saat ini, wanita kelahiran Yogyakarta, 13 Juni 1973 ini menjadi dosen di Fisipol UMY.
Wanita karier yang selalu mebagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya ini, rupanya mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup unik. Beliau menempuh Strata Satu Komunikasi UGM (Universitas Gadjah Mada) pada tahun 1996 dan sekaligus menyelesaikan studinya di Jurusan Manajemen UII(Universitas Islam Indonesia)pada tahun 1997, disusul Gelar MM(Magister Management) UGM pada tahun 2002. Prestasi yang luar biasa. Asam garam kehidupan telah dirasakan beliau dan hal ini membuat beliau semakin matang untuk memantapkan langkahnya.
Beliau mengaku, banyak kendala yang dirasakan ketika harus memberikan pengabdian di bidang pendidikan yang beliau jalani sekarang ini. Namun demikian, beliau juga memiliki berbagai cara untuk memotivasi para mahasiswa yang mungkin agak “seret”. Beliau sering mengajak mahasiswa berstudi kasus agar lebih memahami materi yang beliau berikan.
Ada sebuah kalimat yang sampai sekarang masih berkesan bagi beliau. Kalimat tersebut terlontar dari mahasiswanya yang telah sukses berkarier di Departemen Keuangan. “Ibu, terimakasih atas ilmu yang telah Ibu berikan pada saya, hingga saya bias sukses seperti sekarang”, ucapnya mengenang kalimat itu. Dosen pengampu mata kuliah Management ini punya mimpi untuk meningkatkan akreditasi Jurusan Ilmu Komunikasi UMY. “Keep you spirit!! Saling menjaga kebersamaan dan kekompakkan, karena jika kita sudah terpisah dan mempunyai jalan hidup masing-masing pasti suatu saat kita merindukan momen-momen sewaktu kuliah dulu, rasanya pasti ingin kembali bertemu dengan sahabat-sahabat kita”, pesan Bu Yeni kepada kita semua. (M.Shaktivan)
Firly Annisa14 jam untuk 30 menit yang berharga di bulan September lalu adalah pengalaman pertama perempuan kelahiran Gresik, Jawa Timur, 15 Agustus 1984 yang tinggal di Bantul ini sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah kelulusan S1-nya dari almamater tersebut, Dia berkunjung ke Tanah Eropa. Dara cantik yang pintar, disiplin, dan tegas namun takut naik pesawat ini, berbagi suatu hal yang tak akan pernah Ia lupakan dalam hidupnya.
Berawal dari rasa iri kepada salah satu rekan kerjanya yang pergi ke Inggris, menjadikan Firly Annisa atau yang akrab disapa Firly ini sebagai satu-satunya Pembicara Panel tentang Fashion Islam perwakilan dari ASIA di International Conference yang dikagumi banyak Dosen Luar Negri karena penampilannya yang luar biasa saat memresentasikan sebuah karyanya berupa “The Representation of Fashion as Muslimah Identity in PARAS Magazine” tanpa teks di Frei University of Berlin, yang rencananya akan dipublikasikan pada musim gugur tahun 2009 ini bertempat di Cambridge University, England.
Tak luput dari peran komunikasi sebagai alat penghubung satu dengan yang lainnya. Berkat bantuan Ratna Noviani-lah, seorang Firly dapat berdiri di depan banyak orang hebat, memberi majalah PARAS kepada beberapa orang di antara mereka, dan mendapat banyak teman dari berbagai negara, Turki, Jerman, Amerika, Polandia, Inggris, dan seorang moderatornya yang baik hati dari Israel.
“Banyak yang perlu dilatih ketika kita menjadi seseorang yang berada di lingkungan yang begitu luas dan tidak kita kenal latar belakangnya, oleh karenanya sebagai generasi yang memiliki harapan dan tujuan yang luas pula, sangatlah perlu meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri, mampu memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan sebaik mungkin, lakukan apa yang ingin dilakukan sesuai bakat dan minat masing-masing, aktif dan jangan melupakan membaca!” itulah kiranya pesan yang kami tangkap dari tutur katanya yang lembut. (Titta Nurannisa)

