About Me

Foto saya
VOC adalah suatu media online. kumpulan tulisan anak - anak Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 kelas A yang mengulas atas tulisan - tulisan mencakup semua realita di kehidupan nyata yang di kemas menjadi sebuah sajian yang menarik.

ngomong sakarepmu

\

Gallery













"Semua Press VOC dalam mencari informasi selalu di bekali identitas yang jelas dan lengkap. selama menjalankan tugas, Anggota VOC tidak di perbolehkan meminta imbalan dalam bentuk apapun(kecuali di kasih..hehe). Dan apabila ada yang mengaku Press VOC dan meminta imbalan/sesuatu, Harap Laporkan kepada Kantor polisi terdekat. Terima kasih
Tampilkan postingan dengan label Dasar Dasar Jurnalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Dasar Jurnalis. Tampilkan semua postingan

Globalisasi Dan Tinjauannya Secara Politik

Diposting oleh VOC On 8:40:00 AM 0 komentar

NAMA : AHMAD WAHYUDIN
NIM : 20080530028


Pada decade pasca perang dunia dua yang di tandai dengan kemenangan Negara-negara blok Barat ( Unaited State of America dan United Kingdom ) atas Negara-negara blok timu ( Eropa ) yang memberikan dampak sebuah lanjutan proses integrasi dan pemutusan ekonomi secara sistematik yang termanifestasikan dalam sebuah sistem hasil pertemuan Bretton Woods.

Melalui hasil pertemuan Brettom Woods tersebut, semangat globalisasi meluas hingga negara-negara di dunia tidak terkecuali indonesia mengikuti Brettom Woods.
Pada awal tahun 1971 kesepakatan dibuat untuk membagi-bagi mineral indonesia kepada perusahaan asing. Tidak hanya itu, di sektor pertambangan sumber daya alam, bangsa indonesia dirampok bangsa asing lewat perusahaan-perusahaan tambang mereka yang ada di negri ini.

Kemunculan UU No 11 Tahun 1967 tentang ketentuan pokok pertambangan, yang pertama di nikmata oleh PT Freeport dengan di serahkannya 1,2 juta hektar tanah di papua kepada Freeport McMora dan Rio Tinto oleh Rezim Orde baru. Hal itulah yang kemudian enjadi awal dari meluasnya ketertindasan, kemiskinan dan pembodohan masyarakat adat di tanah papua.

Perusahaan-perusahaan multinasional lain yang sudah bertahun-tahun menancapkan kukunya di indonesia ternyata tidak memberi keuntungan yang setimpal dengan yang dirasakan oleh masyarakat adat yang ada di sekitar perusahaan-perusahaan multinasional tersebut beroperasi. Perusahaan multinasional semakin bertambah besar dan kaya, sedangkan masyarakat adat di indonesia yang berada disekitar perusahaan multinasional tersebut beroperasi semakin miskin.

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke 13, SOPINK (solidaritas untuk orang pinggiran dan perjuangan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) memutarkan sebuah film yang berjudul “ The New Ruler’s Of The World “ Rabu 4 Maret 2009 di ruang E.1.5 sekitar pukul13.00 WIB. Film tersebut disaksikan oleh anggota VOC (Voice Of Communication) dan panitia SOPINK serta mendatangkan 2 pembicara yaitu mas Junaedi dan mas Feri.

Semua penonton terkesan dengan film yang di sutradarai oleh John Filger, karena film ini bercerita tentang wajah dibalik Globalisasi. Globalisasi yang kita rasakan sekarang ini hanyalah sebagian kecil kemewahan yang ditawarkan kepada kita. Padahal dibalik kemewahan itu banyak sebagian rakyat bangsa kita yang tertindas khususnya kaum buruh. Berbagai brand papan atas dunia ramai menyerbu pasaran di Indonesia seperti : Convers, Nike, Gap, Adidas dsb. Namun sayangnya hal tersebut tidak membuat maju perekonomian Indonesia, karena rendahnya upah yang diterima mereka dari perusahaan asing tersebut. Jadi sebenarnya globalisasi di Indonesia membuat rakyat miskin menjadi semakin miskin dan yang kaya semakin kaya.
Acara ini berjalan dengan lancar karena setelah pemutaran film diikuti sesi Tanya jawab yang sangat antusias oleh anggota VOC. VOC merasa bangga dapat bekerjasama dengan teman-teman SHOPINX, karena dapat mempererat hubungan antar dua organisasi yang ada di UMY ini. (TRISKA A.M / 20080530003)

GLOBALISASI NIKE,GAP,DLL MENGANCAM DUNIA

Diposting oleh VOC On 9:26:00 AM 0 komentar

Nama : Kerli rosa
N.I.M : 20080530017
Tugas : Membuat berita



Siapa sangka merk NIKE,GAP dll yang di minati remaja di dunia ini merupakan virus yang sangat berbahaya bagi Indonesia dan dunia.Di hari jadi sopink (sosialisasi orang pinggiran) yang ke 13.Hari Rabu,04 Maret 2009.

Di hari jadi sopink yang ke 13 yang bertema Globalisasi dan Tinjauan secara polotik,Fajar Junaedi (dosen UMY) dan Ferry Widodo (FPPI Pimpinan Kota Jogjakarta) selaku pembicara dalam bedah kasus krisis globalisasi yang mengancam di Indonesia dan dunia yang di akibatkan dari produk bermerk seprti NIKE,GAP dll yang membut para peserta yang datang menjadi menarik untuk di pertanyakan.
Bahkan kasus globalisasi yang mengancan saat ini sudah mengakar di Indonesia dan belahan Dunia.Terutama remaja pada saat ini yang demam akan merk terkenal yang mereka bangga-banggakan saat ini yang membuat kasus krisis globalisasi menjadi semakin berkembang di Indonesia dan belahan Dunia.Kasus yang membuat para keritikus menjadi geram untuk mengkritiki masalah krisis globalisasi yang mengancam saat ini.
Pemerintahpun belum biasa untuk mencari solusi untuk kasus yang akan membahayakan para nasip buruh Indonesia dan belahan Dunia yang menjadi korban,dimana kariawan buruh harus berkerja 17 jam untuk menghasilkan produk bermerk yang akan di produksi untuk di ekspor ke berbagai negara.Meskipun gajih yang di dapat oleh buruh tidak sesuai dengan hasil yang mereka kerjakan.

Disinilah kasus menjadi semakin menarik ketika sang pembicarapun tidak dapat menghindari pertanyaan dari salah satu peserta yang menyatakan bahwa kerisis globallisai sudah mengakar di Indonesia dan belahan dunia.Fajar Junaidi (selaku pembicara) mengakuai bahwa dia menggunakan produk bermerk yang sedang menjadi kasus dalam kerisis globalisasi.Meskipun demikin kedua pembicara menegaskan bahwa perlunya meningkatkan cinta Produk Indonesia dan anti terhadap kerisis globalisasi.

Feradhita (200080530012)

Diposting oleh VOC On 9:25:00 AM 0 komentar

Nama : Feradhita NKD
NIM : 20080530012

Rabu, 5 maret 2009 pukul 13.30 diadakan peringatan ulang tahun “Sopink” yang ke-13. Acara ini berlangsung sekitar 2,5 jam di ruang E 1.5 fisipol UMY yang dihadiri oleh mahasiswa kelas A angkatan 2008. Dalam kesempatan tersebut penitia “Sopink” memutarkan film berjudul “The New Rules of The World”. Panitia menghadirkan dua pemicara, yaitu Bapak Fajar widodo dan dosen dasar-dasar jurnalistik yang lebih kerap dipanggil Mas Jun.

Film tersebut menceritakan kehidupan buruh di Indonesia yang sangat memprihatinkan sebagai akibat dari globalisasi di jaman pemerintahan Suharto. Sebagian besar buruh di Indonesia bekerja di pabrik peusahaan besar di dunia. Gaji yang diperoleh sangat tidak setimpal dengan tenaga yang mereka berikan. Para buruh terpaksa mau menerima perlakuan ini karena desakan ekonomi dan tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia. Seusai pemutaran film, kedua pembicara menjelaskan argumentyang disusul dengan beberapa pertanyaan dari peserta.

Para peserta terlihat begitu antusias menaggapi pemutaran film tersebut. “Kita terlihat begitu munafik jika kita mengatakan anti globalisasi tetapi tetap saja menggunakan produk luar negri” ungkap salah seorang peserta. Pemerintah juga seharusnya jangan mementingkan keuntungan pribadi denagan mengorbankan kehidupan rakyat kecil. Acara ini diakhiri sekitar pukul 14.30 dengan pemberian tanda mata Sopink kepada kedua pembicara. Banyak sekali pengetahuan yang diterima dari pemutaran film tersebut. “Terimakasih kepada Sopink yang sudah mau berbagi kebahagiaan di ultahnya yang ke-13 ” tambahnya.

GLOBALISASI

Diposting oleh VOC On 9:22:00 AM 0 komentar

TERNYATA perubahan zaman menjadi zaman globalisasi,tidak menguntungkan semua orang.Hanya orang orang yang memiliki pundi pindi emas saja yang dapat menikmatinya. Apalagi mereka yang menjadi buruh perusahaan perusahaan asing, yang diupah sangat tidak sebanding denagan yang dikerjakanya.

pemerintah hanya mementingkan keuntungan negara saja, mereka tidak memikirakan rakyatnya.mereka thanya tergiur dengan keuntungan yang besar saja.mereka tidak sadar bahwa negara kita sedang dijajah oleh para investor asing.

Apa jadinya bangasa kita ini jika para petingginya hanya memikirkan keuntungan saja. mereka hanya ingin memperkaya diri mereka sendiri. Dimana letak bukti yang mengatakan globalisasi mengarah keperubahan yang lebih baik. (Felly Helda, 20080530038)

Rayakan Ulang Tahun Dengan Pemutaran Film

Diposting oleh VOC On 10:49:00 AM 0 komentar

SOPINK (solidaritas orang pinggiran dan perjuangan kampus) merayakan ulang tahun dengan pemutaran dan apresiasi film sebagai wujud dari eksistensinya selama 13 tahun ,Rabu(04/03). Bekerja sama dengan Fajar Junaedi (Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ). SOPINK,organisasi yang mengaku peduli dengan masyarakat miskin yang ada di Indonesia ,memutarkan film documenter yang berjudul “The New Rules of The world” .Film ini, sarat dengan pemberdayaan rakyat Indonesia oleh perusahaan – perusahaan di negara adidaya sebagai dampak dari Globalisasi.Setelah pemutaran,dilanjutkan dengan apresiasi film oleh Fajar Junaedi dan Ferry Widodo (Sekjend FPPI Pimpinan Kota Yogyakarta ). Acara yang berlangsung di ruang Multimedia Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berlangsung tertutup dengan peserta yang cukup apresiatif. (Adityo prayogo, 20080530027)

NAMA: GHOZIAN AULIA PRADHANA
NIM: 20080530039
MK: DASAR-DASAR JURNALISTIK
DOSEN: FAJAR JUNAEDI MSi.


Melalui hasil pertemuan Bretton Woods, semangat globalisasi meluas di seluruh negara-negara di dunia tidak terkecuali di Indonesia. Secara historis bagi bangsa ini proses tersebut di mulai melalui paket UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (MPA), yang mengasumsikan bahwa Pemerintahan Orde Baru ingin membuktikan mekanisme investasi, khususnya PMA merupakan factor pendorong krusial bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.

Investor-investor asing yang membuka usaha di Indonesia khususnya pabrik-pabrik yang menghasilkan produk-produk bermerek dari barat, seperti Adidas, GAP di mulai Tahun 90-an. Mereka memperkerjakan jutaan penduduk di Indonesia. Namun sayangnya perusahaan-perusahaan merek terkenal ini menarik keuntungan yang sangat luar biasa besar dari produk-produknya tanpa adanya keseimbangan upah gaji buruh yang sangat minim sekali. Contohnya saat perusahaan GAP di Indonesia memproduksi sebuah celana boxer seharga ratusan dolar, upah yang di terima setiap buruh yang membuat boxer tersebut hanya mendapat Rp500, ironis sekali. Adapun setiap buruh yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut di gaji per harinya hanya Rp10.000.

Ini semua terjadi karena adanya paham kapitalisme dari perusahaan-perusahaan terkenal tersebut dalam meraih untung yang sangat besar, dengan mempekerjakan buruh-buruh di Indonesia dan kemudian meng gajinya se minim mungkin. Intinya di era globalisasi ini orang-orang yang sudah bergelimpangan harta semakin kaya sebaliknya orang-orang yang susah dan rakyat miskin di Indonesia maupun di dunia makin melarat kehidupannya. Sikap kita semua haruslah tegas dalam melawan segala bentuk kapitalis dan hedonism yang berasal dari barat. Kita harus memanfaatkan semua bentuk dari globalisasi ini untuk melawan balik agar hidp kita tidak terbuang percuma.

Nama : Asti Wahyuningsih
Kelas : A
No : 20080530037
Mata Kulaih : Dasar-dasar Jurnalistik
Dosen : Masjun


Dengan adanya kerjasama antara shoping UMY(salah satu nama kegiatan mahasiswa UMY) puluhan mahasiswa telah berkumpul di ruang E.1.5 untuk menyaksikan, sebuah tayangan kreatifitas dari anak-anak shoping UMY.

Isi dari film tersebut telah memberikan aspirasi kepada kita tentang penindasan yang terjadi di negara ini.

Semua mahasiswa sangat antusias terhadap film yang telah di putarkan sehingga hal tersebut dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa UMY untuk menentang penindasan yang di terapkan di negaera ini.

Reza nor Arifin (20080530026)

Diposting oleh VOC On 8:34:00 PM 0 komentar

Film “The New Rukes of The World” membuat suasana kelas A di ruang E 1.5 UMY menjadi sepi. Pemutaran yang berlangsung pada hari Rabu 4 Maret '09 ini mampu membuat penonton membisu.

Film yang dikarang John Filger tentang kemiskinan dan mengenai nasib para buruh perusahaan asing ini membuat kaget penonton. Para penonton tidak mengira bahwa nasib buruh akan seperti yang ada pada film tersebut. Disini buruh dipekerjakan tidak selayaknya manusia biasa, melainkan seperti mesin – mesin produksi yang bisa diatur seenaknya. Mereka bekerja melebihi standar jam kerja, namun upahnya tidak seberapa. Dalam sehari mereka harus bekerja selama 12 jam lebih dan hanya mendapat upah 9000 rupiah sehari.

Ini belum seberapa, karena bila pesnn tersebut akan segera diekspor mereka harus bekerja lembur. Disini mereka mengaku hanya beristirahat 3 jam sehari dan juga tidak mendapatkan uang tambahan lemburan. Para kontraktor asing ini membuka cabang di Indonesia dengan alasan upah buruh yang murah. Bayangkan untuk membuat sepatu yang seharga 1,4 juta perbuah ini mereka hanya mendapatkan upah sebesar 5000 rupiah saja. Para buruh ini tidak mempunyai pilihan lain karena mereka butuh makan setiap harinya biar bisa bertahan hidup.(reza)

Anindhitya Minati Clara (20080530023)

Diposting oleh VOC On 8:32:00 PM 0 komentar

Nama: Anindhitya Minati Clara Kuncara
Nim: 20080530023
Kelas: A
Tugas: Analis film “The New Rules of The Word”



Film “ The New Rules of The Word “ adalah film yang menjelaskan begitu kejamnya era globalisasi bila kita tidak menyiapkan diri dengan matang, baik dalam faktor mental maupun skill. Dalam film ini diberitahukan bahwa era globalisasi telah masuk ke negara Indonesia sejak orde Soeharto. Dengan banyaknya merek-merek luar negeri yang masuk (adidas, convers, nike) sudah menjadi bukti munculnya globalisasi. Bila mencari artinya, globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, dan interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.

Dalam film ini jakarta dijadikan wilayah yang terkena dampak globalisasi. Orang jakarta rela menjadi buruh perusahaan asing yang hanya Rp. 9000 /hari. Semua fakta itu ada karena pengakuan dari salah satu buruh yang mau membagi ceritanya. Sebenarnya mereka sadar bahwa satu produk yang mereka hasilkan memiliki nilai nominal yang jauh lebih besar daripada gaji mereka. Itu tandanya betapa sedikitnya lapangan kerja yang ada dan minimnya kesadaran orang Indonesia dalam berkreatifitas. Bagi orang yang sudah sukses dan mempunyai kemampuan berbisnis yang besar globalisasi adalah sesuatu yang menguntungkan, karena mereka menganggap bahwa suatu negara dengan negara lain saling bergantung dan dapat saling menguntungkan satu sama lain.

Sedangkan bagi masyarakat kecil yang tidak tahu harus menggantungkan hidupnya pada siapa merasa globalisasi adalah sesuatu yang tidak baik. Karena biasnya batas negara, membuat mereka harus rela bersaing dengan perkembangan zaman dan kerasnya kehidupan. Dalam globalisasi tenaga kerja, perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai dengan kelasnya. Jadi bagi mereka yang tidak mempunyai modal yang besar akan terbuang diera globalisasi ini.

Pada dasarnya globalisasi akan membawa dampak baik dan buruk, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Dalam sisi baiknya globalisasi dapat meningkatkan produksi global, meningkatkan kesejahteraan masyarakat (bagi yang mempunyai jiwa bisnis), meluaskan pasar untuk pasar dalam negeri, dapat menambah modal dan teknologi yang lebih baik, dan menyediakan dana tambahan untuk pembangun ekonomi.

Sedangkan sisi buruk dari globalisasi adalah menghambat pertumbuhan sektor industri, memperburuk neraca pembayaran, sektor keuangan tidak stabil, dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dapat disimpulkan globalisasi adalah era yang menuntut masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam dunia tanpa batas. Persaingan yang jauh lebih besar dan luas harus siap untuk dihadapi dalam era globalisasi ini.

R. Putri Wahyu (20080530021)

Diposting oleh VOC On 8:30:00 PM 0 komentar

Merayakan Ulang Tahun Ke 13 Sembari Mengingatkan Pentingnya Globalisasi Kepada Mahasiswa, Itulah yang dilakukan SOPINK (Solidaritas Untuk Orang Pinggiran dan Perjungan Kampus).

Sadar akan pentingnya globalisasi yang kian mendunia merupakan alasan SOPINK dalam melaksanakan pemutaran film pad Rabu, 4 Maret 2009 lalu. Film yang ditayangkan cukul membuat para hadirin tercengang. Fakta yang mencengangkan justru berasal dari Indonesia sendiri. Perekonomian Indonesia pada masa lalu penuh kepalsuan yang kini berakibat pada penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia.

Acara yang dihadiri oleh Dosen Dasar Jurnalistik yang akrab disapa Mas Jun dan Ferry Widodo ini cukup menarik perhatian para Mahasisiwa. Terbukti dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilontarkan mahasisawa kepada mereka selaku pembicara. Sebelum acara berakhir, panitia penyelenggara acara membagikan merchandise berupa sticker dan kalender.

FERADHITA (20080530012)

Diposting oleh VOC On 8:25:00 PM 0 komentar

Rabu, 5 maret 2009 pukul 13.30 diadakan peringatan ulang tahun “Sopink” yang ke-13. Acara ini berlangsung sekitar 2,5 jam di ruang E 1.5 fisipol UMY yang dihadiri oleh mahasiswa kelas A angkatan 2008. Dalam kesempatan tersebut penitia “Sopink” memutarkan film berjudul “The New Rules of The World”. Panitia menghadirkan dua pemicara, yaitu Bapak Fajar widodo dan dosen dasar-dasar jurnalistik yang lebih kerap dipanggil Mas Jun.

Film tersebut menceritakan kehidupan buruh di Indonesia yang sangat memprihatinkan sebagai akibat dari globalisasi di jaman pemerintahan Suharto. Sebagian besar buruh di Indonesia bekerja di pabrik peusahaan besar di dunia. Gaji yang diperoleh sangat tidak setimpal dengan tenaga yang mereka berikan. Para buruh terpaksa mau menerima perlakuan ini karena desakan ekonomi dan tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia. Seusai pemutaran film, kedua pembicara menjelaskan argumentyang disusul dengan beberapa pertanyaan dari peserta.

Para peserta terlihat begitu antusias menaggapi pemutaran film tersebut. “Kita terlihat begitu munafik jika kita mengatakan anti globalisasi tetapi tetap saja menggunakan produk luar negri” ungkap salah seorang peserta. Pemerintah juga seharusnya jangan mementingkan keuntungan pribadi denagan mengorbankan kehidupan rakyat kecil. Acara ini diakhiri sekitar pukul 14.30 dengan pemberian tanda mata Sopink kepada kedua pembicara. Banyak sekali pengetahuan yang diterima dari pemutaran film tersebut. “Terimakasih kepada Sopink yang sudah mau berbagi kebahagiaan di ultahnya yang ke-13 ” tambahnya.

Zulmi Azhar A (20080530035)

Diposting oleh VOC On 7:08:00 PM 0 komentar

Pemutaran film yang diadakan oleh “Sopink” di ruang multimedia fakultas isipol UMY yang berjudul “The New Ruler’s Of The World”.Dihadiri oleh kelas A angkatan 2008 jurusan komunikasi UMY.Dalam acara ini dihadiri dua pembicara Fajar Junaidi selaku dosen komunikasi UMY dan Feri Widodo dari pihak Shopink sendiri sebagai panelis.
Film tersebut mengangkat tema globalisasi yang terjadi di Indonesia.Para pekerja buruh mendapat upah yang tidak sesuai denga pendapatan perusahaan.Karena dari sidak yang dilakukan langsung di lapangan sepatu “nike”yang dihargai 1,4juta dipasaran,sebanding dengan gaji buruh yang hanya 9ribu/biji.Keadaan buruh di Indonesia yang seperti ini salah satunya diakibatkan oleh masa pemerintahan rezim Soeharto di masanya.

Menurut mas Jun begitu sapaan akrab pak Fajar Junaidi.Sudah saatnya kita semua khususnya para mahasiswa untuk bisa lebih menghargai produk dalam negeri sendiri dan harus mulai meninggalkan produk-produk import.Itu sudah termasuk salah satu upaya kita dalam melindungi buruh maupun produk-produk dalam negeri itu sendiri. (Zulmi Azhar, 20080530035)

Ulang Tahun, SOPINK memutarkan Film

Diposting oleh VOC On 7:04:00 PM 0 komentar

Nama : Mida Mardhiyyah
Nim : 20080530034
Kelas : A
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Jurnalistik

Miskin semakin miskin, kayak bertambah kayak. Itulah satu dampak nyata dari kapalsuan janji globalisasi. Hal itu pulalah yang ingin disampaikan John Pilger sang sutradara, dalam filmnya yang berjudul “ The New Rules Of The World “. Film yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini, diputar dalam rangka ulang tahun SOPINK (Solidaritas Untuk Orang Pinggiran Dan Perjuangan Kampus) UMY yang ke 13 di ruang negosiasi jurusan Ilmu Komunikasi Rabu(4/06).

Dalam pemutaran film ini SOPOINK mendatangkan 2 pembicara, Fajar Junaedi pakar multimedia Ilmu Komunikasi dari UMY dan Ferry Widodo ketua FPPI untuk wilayah DIY. Dalam kesempatannya, kedua pembicara menyampaikan komentar mengenai fenomena globalisasi. Selesai komenntar dari dua pembicara, penonton diberi kesempatan untuk bertanya. Penontonpun antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar globalisasi dan kaitannya dengan dunia kerja yang di jawab oleh dua pembicara tersebut.
Sebaliknya, jika Fajar Junaedi mengatakan “ jadilah wartawan seperti John Pilger, yang membela rakyat”. Maka, Ferry Widodo dengan tegas mengatakan “ Jangan takut untuk mengatakan Tidak Pada Globalisasi”.”Bukan berarti kita menolak globalisasi tapi, kita menyiasati globalisasi untuk melawan globalisasi itu sendiri” ujar Ferry di Closing Stetementnya.

Wulan Musaroh (20080530019)

Diposting oleh VOC On 6:58:00 PM 0 komentar

Nama : Wulan Musaroh
Nim : 20080530019
Kelas : A
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Jurnalistik
P. Study : S1. Ilmu Komunikasi


Dalam rangka ultah sopink yang ke-13, mereka menyelenggarakan pemutaran film yang berjudul “ The New Ruler’s In the World”. Acara ini diadakan pada hari rabu pukul 12:30 di Ruang Multimedia Fak FISIPOL UMY, di hadiri oleh kelas A angkatan 2008 jurusan Komunikasi UMY. Dalam pemutaran film tersebut di hadiri oleh 2 pembicara: Mas Fajar Junaidi selaku dosen Komunikasi UMY dan Ferry Widodo dari pihak sopink.
Pemutran ini mengangkat Tema Globalisasi yang melanda Indonesia, Film tersebut bercerita keadaan buruh di Indonesia yang tertindas. Mereka mendapatkan upah yang tidak sesuai dengan pendapatan Perusahaan salah satu yang terbesar di Dunia seperti GAP yang di contohkan dalam Film tersebut. Film ini menyampaikan pesan bahwa kita harus mencintai Produk dalam Negeri daripada Produk Luar yang hanya akan menguntungkan Negara tersebut.
Salah satu peserta menanggapi Film tersebut bahwa jangan malu memakai produk dalam Negeri, maka mulailah mencintai Produk dalam Negeri.

Wulan Musaroh (20080530019)

Diposting oleh VOC On 6:58:00 PM 0 komentar

Nama : Wulan Musaroh
Nim : 20080530019
Kelas : A
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Jurnalistik
P. Study : S1. Ilmu Komunikasi


Dalam rangka ultah sopink yang ke-13, mereka menyelenggarakan pemutaran film yang berjudul “ The New Ruler’s In the World”. Acara ini diadakan pada hari rabu pukul 12:30 di Ruang Multimedia Fak FISIPOL UMY, di hadiri oleh kelas A angkatan 2008 jurusan Komunikasi UMY. Dalam pemutaran film tersebut di hadiri oleh 2 pembicara: Mas Fajar Junaidi selaku dosen Komunikasi UMY dan Ferry Widodo dari pihak sopink.
Pemutran ini mengangkat Tema Globalisasi yang melanda Indonesia, Film tersebut bercerita keadaan buruh di Indonesia yang tertindas. Mereka mendapatkan upah yang tidak sesuai dengan pendapatan Perusahaan salah satu yang terbesar di Dunia seperti GAP yang di contohkan dalam Film tersebut. Film ini menyampaikan pesan bahwa kita harus mencintai Produk dalam Negeri daripada Produk Luar yang hanya akan menguntungkan Negara tersebut.
Salah satu peserta menanggapi Film tersebut bahwa jangan malu memakai produk dalam Negeri, maka mulailah mencintai Produk dalam Negeri.

PEMUTARAN FILM OLEH SOPINK

Diposting oleh VOC On 6:56:00 PM 0 komentar

Rabu, 4 maret 2009, Solidaritas Orang pinggiran Dan Perjuangan kampus atau yang lebih dikenal dengan nama SOPINK yang bermarkas di Halte bus UMY ini, sedang menyelenggarakan Hari jadinya yang ke 13.

Dalam perayaan ultahnya ini SOPINK melakukan pemutaran film di depan mahasiswa kelas A departemen komunikasi 2008 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang berrtajuk tentang Globalisasi. Pemutaran film ini bukan hanya untuk melanjuti acara ultahnya tetapi juga menyadarkan atau memberi tahu kepada mahasiswa, bahwa selain dampak positif yang di hasilkan oleh Globalisasi tetapi juga banyak sekali dampak buruk yang di hasilkan olehnya. Dalam berbagai aspek kehidupan, hingga sampai ke bidang Politik yang di mulai pada masa Orde lama.

Karena sebab inilah yang menggugah Sopink untuk menyadarkan Mahasiswa agar tidak menjadi budak Globalisasi atau menjadi manusia yang konsumtif. Memang Globalisasi tak akan terhindarkan, dan tidak dapat dipungkiri kita juga orang yang mempergunakan produk Globalisasi. “..kita harus bisa mensiasati mana yang merupakan kebutuhan atau bukan agar tidak menjadi masyarakat yang konsumtif..” Ujar salah satu pembicara SOPINK. (Rizky Ardhani N, 20080530009)

SAAT INDONESIA MENJADI KORBAN GLOBALISASI

Diposting oleh VOC On 7:18:00 AM 0 komentar

Saat zaman mulai berkembang dengan pesatnya, saat globalisasi mulai berperan dalam perkembangan dunia saat ini, Indonesia menjadi korbannya. Jerih payah dan tetes keringat para buruh Indonesia tak lagi dihormati dan dihitung pengorbanannya.
Bangsa Barat telah menguasai perekonomian dunia dari masa ke masa. Berbagai macam perusahaan yang mempekerjakan para buruh Indonesia tidak lagi memikirkan nasib pekerjanya, upah yang tidak sebanding dengan jam kerja yang begitu melelahkan. Demi menyambung hidup, mereka rela melakukan pekerjaan berat tersebut dengan mengemban kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja, yaitu dengan tidak memberitahukan kelemahan atau kejelekan perusahaan.

Karena tanpa disadari, globalisasi telah menguasai Indonesia secara hegemoni dan sangat cepat. Begitu mudahnya berbagai macam produk hasil globalisasi masuk ke Indonesia. Dengan kelemahan yang dimiliki negara ini, menyebabkan Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari globalisasi. (Tita Nur Annisa, 20080530011)

DERITA RAKYAT MISKIN INDONESIA

Diposting oleh VOC On 6:35:00 PM 0 komentar

“Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin…”. Tampaknya penggalan bait lagu Rhoma Irama tersebut “pas” untuk menggambarkan kondisi rakyat kelas bawah di Indonesia . Betapa susah dan menderitanya keadaan rakyat miskin di Indonesia saat ini. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dari tahum-ketahun tidak diimbangi oleh tersediaannya lapangan pekerjaan yang memadai.

Keadaan diatas sangat kontras dengan perusahaan elite asing di Indonesia. Sebut saja seperti Nike, Adidas, hingga GAP yang menjadi ladang tumpuan para buruh tersebut. Bekerja 36 nonstop demi memenuhi target perusahaan. Akan tetapi jerih payah tak sebanding dengan upah. Dengan jam kerja ekstra padat, tiap buruh hanya mendapat upah Rp. 5000 – Rp. 10.000 perhari. Upah harian seperti itu, tak sebanding dengan keuntungan perusahaan yang menjual 1 produknya dengan harga mencapai Rp. 1.000.000.

Sampai separah inikah keadaan rakyat miskin terutama buruh di Indonesia ? (NOOR FAIZ (20080530032)

NAMA: GHOZIAN AULIA PRADHANA
NIM: 20080530039
MK: DASAR-DASAR JURNALISTIK
DOSEN: FAJAR JUNAEDI MSi.


Melalui hasil pertemuan Bretton Woods, semangat globalisasi meluas di seluruh negara-negara di dunia tidak terkecuali di Indonesia. Secara historis bagi bangsa ini proses tersebut di mulai melalui paket UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (MPA), yang mengasumsikan bahwa Pemerintahan Orde Baru ingin membuktikan mekanisme investasi, khususnya PMA merupakan factor pendorong krusial bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.

Investor-investor asing yang membuka usaha di Indonesia khususnya pabrik-pabrik yang menghasilkan produk-produk bermerek dari barat, seperti Adidas, GAP di mulai Tahun 90-an. Mereka memperkerjakan jutaan penduduk di Indonesia. Namun sayangnya perusahaan-perusahaan merek terkenal ini menarik keuntungan yang sangat luar biasa besar dari produk-produknya tanpa adanya keseimbangan upah gaji buruh yang sangat minim sekali. Contohnya saat perusahaan GAP di Indonesia memproduksi sebuah celana boxer seharga ratusan dolar, upah yang di terima setiap buruh yang membuat boxer tersebut hanya mendapat Rp500, ironis sekali. Adapun setiap buruh yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut di gaji per harinya hanya Rp10.000.

Ini semua terjadi karena adanya paham kapitalisme dari perusahaan-perusahaan terkenal tersebut dalam meraih untung yang sangat besar, dengan mempekerjakan buruh-buruh di Indonesia dan kemudian meng gajinya se minim mungkin. Intinya di era globalisasi ini orang-orang yang sudah bergelimpangan harta semakin kaya sebaliknya orang-orang yang susah dan rakyat miskin di Indonesia maupun di dunia makin melarat kehidupannya. Sikap kita semua haruslah tegas dalam melawan segala bentuk kapitalis dan hedonism yang berasal dari barat. Kita harus memanfaatkan semua bentuk dari globalisasi ini untuk melawan balik agar hidp kita tidak terbuang percuma.

Icon VOC

Even Terbaru



YM Admin



pengunjung ke..

free hit counter
VOC counter

Jurnalis


Blog Archive

Banner

VOC Site



Partner






VOC Bercerita

Berita terbaru....(Klik yaa!)

Comment terakhir