UMY_VOC - H-3, divisi entertainment VOC sibuk mengadakan persiapan pesta launching blog, 06 Mei 2009. Mulai pengadaan property, yel-yel, dan pembagian tugas.
Ditunjuk langsung dari ketua umum VOC, Agam menghandle konsep yang akan ditampilkan VOC dan menkoordinasi anggota yang lain untuk ikut campur dalam menyukseskan VOC dari segi entertainment. Pengadaan pom-pom ditangan langsung Agam beserta anggota VOC perempuan, pengadaan poster dikerjakan oleh Lala dan Putri., sedangkan yel-yel diputuskan secara bersama oleh semua anggota VOC yang notabenenya anak-anak komunikasi kelas A angkatan 2008.
“ kerja bareng teman-teman kelas A sangat menyenangkan , sekali komando semua anggota melaksanakan tugas dengan baik. Demokrasi dan solidaritas di divisi entertainment VOC, usianya lebih tua dari VOC sendiri. Hubungan antar anggota divisi bersifat lateral, sehingga kita menikmati proses kerjanya. Urusan bagus atau tidak perform kita nanti, itu udah kita pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Karena bagi VOC, demokrasi dan solidaritas itu sendiri jauh lebih berharga dari apapun”. Tambah Agam, koordinator entertainment VOC. (Titis Mizan AS)
UMY_VOC 06 Mei 2009, hari yang telah dijanjikan akhirnya datang juga. Ajang pembuktian eksistensi VOC, Mafkom, Time-Locker dan Keepers untuk menjadi yang pertama ditentukan hari ini juga.
VOC (Voice of Communication), blog kelas A komunikasi UMY angkatan 2008. berusaha menjadi yang terbaik dalam pertandingan blog jurusan komunikasi yang dimulai awal semester 2. Komitmen, demokrasi, solidaritas, kerjasama, kerja santai tapi fokus, tulisan-tulisan kritis, dan berita terbaru mengukuhkan all VOC’ers (kami menyebut anggota VOC) untuk menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik, bukan selalu nomor satu, tapi makna yang lebih jauh dari itu. Keberhasilan suatu team dimulai dari keberhasilan anggota team untuk mengalahkan egoisme masing-masing. VOC seperti puzzle, di sana terdapat beragam macam karakter, sifat, budaya asal masing-masing anggota. VOC, yang menyatukan anggotanya untuk menjadi yang terbaik. Beragam bentuk, warna, dan ukuran VOC’ers saling melengkapi ruang kelemahan sehingga terciptalah puzzle utuh yang indah.
Menurut beberapa rekan mahasiswa, blog kelas yang disepakati diberi nama VOC, mampu menyatukan individu-individu yang unik menjadi suatu team yang solid. Dimana kondisi saling mendukung antar anggota untuk berprestasi menjadi prestasi suatu team. Salah satu keberhasilan prestasi VOC yang dimotori semua anggota adalah acara perdana VOC yang berlangsung tepat 9 hari yang lalu dari sekarang. Dan kemenangan VOC atas pertandingan blog kelas resmi Komunikasi tidak bisa memberi kebahagiaan lebih kepada VOC, karena yang seperti kita ketahui, kebahagiaan sejati itu ada di dalam VOC sendiri. (Agam Abrianto)
UMY_VOC - Agam abriyanto, mahasiswa trans gender Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY 2008 membuka cakrawala masyarakat tentang stigma negatif banci Indonesia melalui diskusi publik bertajuk “Aku Agam, Bukan Banci”, 29 April 2009 lalu yang dimotori VOC (Voice of Communication). Acara perdana VOC ini, sebagai langkah untuk menyemangati anggotanya untuk berpikir kritis, sesuai dengan motto VOC “kami ada, maka kami bersuara”. Berpikir kritis secara prestigious ciri khas mahasiswa berintelektual ini, diawali dengan diskusi publik paper berani yang ditulis Agam “Pesona Mahakarya Sang Pencipta” di www.umy-voc.blogspot.com. Agam abriyanto, mahasiswa trans gender Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY 2008 membuka cakrawala masyarakat tentang stigma negatif banci Indonesia melalui diskusi publik bertajuk “Aku Agam, Bukan Banci”, 29 April 2009 lalu yang dimotori VOC (Voice of Communication). Acara perdana VOC ini, sebagai langkah untuk menyemangati anggotanya untuk berpikir kritis, sesuai dengan motto VOC “kami ada, maka kami bersuara”. Berpikir kritis secara prestigious ciri khas mahasiswa berintelektual ini, diawali dengan diskusi publik paper berani yang ditulis Agam “Pesona Mahakarya Sang Pencipta” di www.umy-voc.blogspot.com.
Menurut Agam, banci atau apalah sebutannya di Indonesia tidak mendapat “tempat” layaknya manusia beradap lainnya. Banci hanya dianggap “topeng monyet” tempat untuk pelecehan dan tertawaan. Padahal Indonesia mempunyai potensi tehadap jumlah banci. Tidak hanya sebagai pelaku prostitusi dan banci kaleng, tapi banci juga bisa berprestasi di akademis ataupun status ekonomi. Indonesia yang diklaim sebagai negara jumlah muslimnya terbesar di dunia bukan berarti Indonesia = negara islam, di Indonesia kita tidak memakai hukum islam, namun UU. Status yang menggantung antara diakui dan ditolak terhadap banci menyulitkannya untuk bertahan dari mental yang sering jatuh bangun dari olok-olokkan masyarakat dengan menyerukan kata banci. “ jujur, 9 dari 10 yang ingin saya sampaikan di forum tidak tersampaikan. Mengecewakan memang, namun melihat kerja keras panitia VOC dan antusiasme hadirin yang menyesaki ruang E 1.7 lalu, menghapus kecewa saya dan saya pikir semua orang masih bisa baca tulisan saya dan berkomunikasi dengan saya diblog.” Tutur mahasiswa kritis ini.
Acara sukses yang dihadiri lebih dari 100 tempat duduk ini, terdiri atas para dosen komunikasi UMY, teman-teman mahasiswa psikology Mercubuana dan UAD, pakar sosiolog drs. Soeprapto SU., mahasiswa dari berbagai jurusan UMY, dan reporter Jogja TV sebagai langkah awal Agam untuk merealisasikan cita-citanya mengungkapkan realita kehidupan banci di Indonesia.” Rencana setelah menyelesaikan study di FISIPOL UMY, saya akan keluar dari Indonesia, karena untuk kehidupan saling menghormati perbedaan di Indonesia seperti di Amerika masih jauh dari realitas sekarang. Namun saya bukan mama Lauren yang bisa meramalkan kehidupan saya 3 tahun mendatang, apakah saya bisa berdamai dengan budaya Indonesia atau tidak? Biar itu menjadi urusan saya dengan Sang Pencipta. Semua saya kembalikan kepadaNya.” Tambah mahasiswa yang mengaku Munir sebagai reporter idolanya. (Asty Wahyuningsih)
UMY_VOC - Tepat di hari Kamis tanggal 30 April 2009 kemarin, Ibu Muria Endah genab berusia 33 tahun. Dosen yang satu ini terlihat sangat care dan dekat dengan mahasiswanya. Tentu saja anak-anak kelas A jurusan Ilmu Komunikasi tidak tinggal diam. Mereka segera memutar otak setelah mengetahui bahwa hari jadinya bertepatan dengan jadwal mengajarnya di kelas A . Rencana telah tersusun rapi eksekusi - pun siap dilaksanakan.
Di dalam kelas, yaitu di ruang e.1.7 jam 12.30, anak-anak mulai berakting. Berbagai macam cara dilakukan untuk memancing emosi dosen komunikasi massa ini. Dari telat masuk kuliah, kelas yang tidak conducive, ribut di kelas, dll. Usaha ini tidak sia-sia, Ibu Muria sempat terpancing emosinya. Ketika dirasa sudah cukup untuk mengusilinya, anak-anak kelas A membuka aktingnya. Mahasiswa datang membawa sebuah kue kecil dengan lilin diatasnya sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Setelah itu mahasiswa bergantian menyelamati dosen kita ini.
Beliau terlihat sangat terkejut dan senang. Dia pun mengakui sempat speechless setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Walau rencana mengerjai Bu Muria ini sempat berubah dari rencana awal dan beliau pun sempat curiga, tetapi semua dapat berjalan dengan lancar. Ini sebagai tanda kasih sayang kita terhadap para dosen. “Terimakasih atas kejutannya”, ujarnya di sela-sela pelajaran. (Feraditha NK)
VOC_UMY. Pada hari Rabu, 29 April 2009 jam 12.30, VOC (Voice Of Communication) akan menyelenggarakan diskusi publik yang mengangkat masalah sosial bertemakan “Aku Agam, Bukan Banci” di gedung Fisipol lantai 1 ruang E.1.7 atau Ruang Multimedia . Tema ini diangkat dari sebuah tulisan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY 2008 yang termuat di blog VOC, yang beralamatkan di www.umy-voc.blogspot.com. Acara ini gratis dan tidak ada biaya apapun. Pembicara yang dihadirkan adalah Bpk. Suprapto, SU yang merupakan seorang sosiolog, dan dr. Sagiran, Sp.B,M.Kes.
Acara pertama yang diadakan oleh VOC alias Kelas A ini merupakan diskusi yang mengangkat masalah sosial yang saat ini sangat marak terjadi. “Banci, gay, homo seks” rupanya telah berpolarisasi menjadi sebuah gaya hidup. Salahkah? Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, mereka tentu berhak hidup. Dan tanpa perlu menutup mata, rasanya kita pun harus mengakui bahwa “mereka” memang ada di antara kita. Kadang cemo’ohan, ejekan, cacian menerpa mereka. Tapi pernahkah kita berpikir apa yang terjadi “behind the screen” mereka? Mereka pasti punya latar belakang yang membuat mereka seperti itu. Pernahkah kita mencoba untuk peduli? Sebagai mahasiswa yang katanya “kritis dan membela rakyat” harusnya kita ikut peduli dengan mereka.
Agam, seorang “transeksual” yang mencoba untuk menunjukkan jati dirinya, serta berjuang untuk dirasakan keberadaannya, mencoba membuka diri pada kita melalui forum ini. Seseorang yang “sulit” untuk menemukan jati dirinya ini ingin menunjukkan bahwa dia pun layak berprestasi. Kita akan bersama-sama membuka pandangan kita tentang “banci” melalui diskusi ini. Tidak kurang, pembicara yang dihadirkan adalah orang yang “ahlinya”. Marilah kita menjadi orang yang peduli, yang tidak menutup mata terhadap kaum minoritas seperti Agam.
Acara ini turut mengundang dosen-dosen jurusan Ilmu Komunikasi UMY, wartawan kampus yang ingin meliput, serta teman-teman yang mau ikut peduli dengan keadaan sekitar. Bagi teman-teman yang ingin bergabung, silahkan datang langsung ke acara diskusi “Aku Agam, Bukan Banci”. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi panitia di 085641334246 dan 085341010209. Don’t miss it!!!
UMY_VOC - H-1 (08/04/09) Pemilu 2009, SOPINK (Solidaritas Untuk Orang Pinggiran dan Perjuangan Kampus) UMY melayangkan SMS yang berisi ajakan untuk tidak menggunakan hak pilihnya (Golput) dalam Pemilihan Legislatif yang jatuh pada hari kamis 9 April 2009.
SMS ajakan Golput tersebut berisi, "Sehari lagi kita jelang PEMILU'09, utk tu jgn lp utk tdk mnggunakan hak pilih anda dlm PILEG bsk alias "GOLPUT"..Pesan layanan masyarakat ini dsmpaikn oleh 'SOPINK-UMY'.."
Selain melayangkan SMS SOPINK juga menyebar anggotanya di tempat strategis seperti kantin yang ada disekitar kampus untuk memberikan selebaran dengan isi yang sama (GOLPUT). SMS dan selebaran tersebut ditujukan kepada mahasiswa - mahasiswa UMY.
Menurut pendapat salah seorang mahasiswa yang menerima sms ajakan Golput tersebut mengatakan, sms itu tidak memberi pengaruh apapun. Justru, baginya PEMILU adalah kesempatan dan saat yang paling tepat untuk menyuarakan aspirasinya sebagai warga Indonesia. Terlebih PEMILU datang empat tahun sekali. "Tapi sayang saya 'gak punya KTP Jogja jadi terpaksa gak nyontreng." ujarnya. (Mida Mardiyyah)
UMY- Sampai saat ini, Jum’at (13/3), di FE (Fakultas Ekonomi-red) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terlihat pemandangan seperti biasa. Sebuah lift terlihat tak terpakai, di sisi lain terlihat pula mahasiswa dan mahasiswi UMY mondar-mandir melewati anak tangga yang ada disamping lift. Yang menarik dari pemandangan itu adalah ada saja mahasiswa yang berkomentar mengenai lift tersebut, ada yang bercarut-marut, sekedar kesal, ada juga yang beristirahat sejenak tiap kali menaiki anak tangga.
Hampir setahun sejak mahasiswa angkatan 2008 menginjakkan kaki di UMY, lift tersebut tetap “tak bernyawa”. Entah apa ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keprihatinan kita terhadap fasilitas UMY yang satu ini. Sekilas mungkin ini masalah sepele, namun jika kita perhatikan, besar sekali peran lift tersebut. Bayangkan, gedung Fakultas Ekonomi sendiri memiliki empat lantai, dimana lantai keempat gedung tersebut merupakan lantai yang digunakan sebagai tempat perkuliahan Bahasa Inggris bagi mahasiswa UMY. Belum lagi tangganya yang memutar untuk naik satu lantai saja. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan hal ini, bahkan dengan nada emosi yang tinggi. Tidak sedikit pula mahasiswa yang jarang masuk kuliah Bahasa Inggris hanya karena malas menaiki tangga ke lantai empat. “Saya bingung, kenapa sejak saya kuliah di UMY setahun yang lalu lift ini nggak juga diperbaiki” ujar DN, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. “Dulu pernah ada kejadian pas UAS(Ujian Akhir Semester-red) Bahasa Inggris di lantai empat Gedung FE, tiba-tiba seorang mahasiswi jatuh pingsan karena asmanya kambuh, dan kami terpaksa menggotongnya menuruni anak tangga karena lift sebagai fasilitas utama gedung itu tidak dapat digunakan”, tambahnya antusias.
Bukankah kita telah membayar iuran demi fasilitas kampus ini? Apa yang kita dapatkan? Kini kita hanya berharap tidak ada lagi keluhan-keluhan yang tidak perlu seandainya saja fasilitas terjaga dengan baik dan mahasiswa nyaman untuk berkuliah bahasa Inggris. “Harapan saya Cuma satu, lift FE segera diperbaiki. Tapi kapan?!“ Kata DN berkeluh kesah pada salah satu wartawan media online VOC (Voice of Communication). (Ghozian Aulia)

