UMY_VOC - Agam abriyanto, mahasiswa trans gender Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY 2008 membuka cakrawala masyarakat tentang stigma negatif banci Indonesia melalui diskusi publik bertajuk “Aku Agam, Bukan Banci”, 29 April 2009 lalu yang dimotori VOC (Voice of Communication). Acara perdana VOC ini, sebagai langkah untuk menyemangati anggotanya untuk berpikir kritis, sesuai dengan motto VOC “kami ada, maka kami bersuara”. Berpikir kritis secara prestigious ciri khas mahasiswa berintelektual ini, diawali dengan diskusi publik paper berani yang ditulis Agam “Pesona Mahakarya Sang Pencipta” di www.umy-voc.blogspot.com. Agam abriyanto, mahasiswa trans gender Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY 2008 membuka cakrawala masyarakat tentang stigma negatif banci Indonesia melalui diskusi publik bertajuk “Aku Agam, Bukan Banci”, 29 April 2009 lalu yang dimotori VOC (Voice of Communication). Acara perdana VOC ini, sebagai langkah untuk menyemangati anggotanya untuk berpikir kritis, sesuai dengan motto VOC “kami ada, maka kami bersuara”. Berpikir kritis secara prestigious ciri khas mahasiswa berintelektual ini, diawali dengan diskusi publik paper berani yang ditulis Agam “Pesona Mahakarya Sang Pencipta” di www.umy-voc.blogspot.com.
Menurut Agam, banci atau apalah sebutannya di Indonesia tidak mendapat “tempat” layaknya manusia beradap lainnya. Banci hanya dianggap “topeng monyet” tempat untuk pelecehan dan tertawaan. Padahal Indonesia mempunyai potensi tehadap jumlah banci. Tidak hanya sebagai pelaku prostitusi dan banci kaleng, tapi banci juga bisa berprestasi di akademis ataupun status ekonomi. Indonesia yang diklaim sebagai negara jumlah muslimnya terbesar di dunia bukan berarti Indonesia = negara islam, di Indonesia kita tidak memakai hukum islam, namun UU. Status yang menggantung antara diakui dan ditolak terhadap banci menyulitkannya untuk bertahan dari mental yang sering jatuh bangun dari olok-olokkan masyarakat dengan menyerukan kata banci. “ jujur, 9 dari 10 yang ingin saya sampaikan di forum tidak tersampaikan. Mengecewakan memang, namun melihat kerja keras panitia VOC dan antusiasme hadirin yang menyesaki ruang E 1.7 lalu, menghapus kecewa saya dan saya pikir semua orang masih bisa baca tulisan saya dan berkomunikasi dengan saya diblog.” Tutur mahasiswa kritis ini.
Acara sukses yang dihadiri lebih dari 100 tempat duduk ini, terdiri atas para dosen komunikasi UMY, teman-teman mahasiswa psikology Mercubuana dan UAD, pakar sosiolog drs. Soeprapto SU., mahasiswa dari berbagai jurusan UMY, dan reporter Jogja TV sebagai langkah awal Agam untuk merealisasikan cita-citanya mengungkapkan realita kehidupan banci di Indonesia.” Rencana setelah menyelesaikan study di FISIPOL UMY, saya akan keluar dari Indonesia, karena untuk kehidupan saling menghormati perbedaan di Indonesia seperti di Amerika masih jauh dari realitas sekarang. Namun saya bukan mama Lauren yang bisa meramalkan kehidupan saya 3 tahun mendatang, apakah saya bisa berdamai dengan budaya Indonesia atau tidak? Biar itu menjadi urusan saya dengan Sang Pencipta. Semua saya kembalikan kepadaNya.” Tambah mahasiswa yang mengaku Munir sebagai reporter idolanya. (Asty Wahyuningsih)
Muria Endah S,Mi adalah seorang dosen FISIPOL Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dosen pengajar mata kuliah Kapita Selekta Periklanan dan TK (Teori Komunikasi) memulai perannya sebagai dosen sejak tahun 2000 mengajar di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). “Saya mengajar pokokya lebih interes kepada kajian-kajian media.” Ujar wanita kelahiran Kudus tanggal 30 April 1976 ini disela wawancara.
“Bagaimana pengalaman ibu pada mengajar di UMY (Universitas Muahammadiyah Yogyakarta) ? Tanya saya. Wanita yang pernah menempuh pendidikan di UGM (Universitas Gajah Mada) dan UNAIR (Universitas Airlangga) ini mempunyai pengalaman menarik dimana dia dituntut harus belajar. “Mau pintar harus belajar, mau ngajar harus belajar, termasuk menghadapi orang-orang di lingkungan kerjapun harus belajar.” Tegasnya. Selain itu, dosen ini pernah mengalami shock saat pertama kali menajar di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Saat itu dia menemukan tempat yang menurutnya berbeda karakter di bandingkan di tempat dia kuliah dan bekerja. ”Kadang geli, kadang menangis, tapi sukseslah.” Ujarnya sambil tertawa. Percakapan VOC (Voice Of Communication) dengan Ibu Muria Indah S,Mi semakin asik.
“Bisakah ibu menceritakan suka dan duka ibu pada saat mengajar di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) kepada VOC (Voice Of Communication)” ujar saya.Wanita yang sudah menjadi ibu rumah tangga ini mau bercerita tentang suka dan duka mengajar di UMY (Universitas Muammadiyah Yogyakarta). Akhirnya wanita yang pernah sekolah di SD Perayu Kota Baru Yogyakarta lulus tahun 1988 ini berbagi cerita tentang pengalaman yang dia alami pada saat mengajar. Pengalaman yang dialami dari tahun ke tahun cenderung sama.
Menurutnya ada kelas yang membuat nyaman. “Ada sich kelas yang menurut saya nyaman dan merespon apa yang saya sampaikan, membuat saya semangat dan memaksa saya harus berfikir, hubunganpun menjadi dinamis.” Ucapnya serius. Meskipun demikian wanita yang menyelesaikan sekolah menengahnya di SMP 5 Kota Baru Yogyakarta pada tahun 1991 ini menceritakn kekesalannya pada saat mengajar di salah satu kelas yang menurutnya tidak dinamis. “Saya harus menyampaikan pola yang saya sampaikan dengan bosan dan kuliah akirnya menjadi tidak nyaman.” Ujarnya dengan serius. Bahkan wanita yang pernah menempuh sekolah SMA 3 Kota Baru Yogyakarta lulus tahun 1994 ini merasa bingung ketika materi yang dia sampaikan sudah habis. Kuliah akhirnya menjadi tidak dinamis. (KERLI ROSA)
Berwibawa, penuh dedikasi, rapi, dan murah senyum. Semua itu saya rasakan saat pertama bertemu dengan Bapak yang satu ini. Sedangkan kesan smart, berwawasan luas, dan banyak pengalaman, itulah hal yang kemudian saya rasakan saat memulai berbincang dengan beliau. Dikenal dengan sapaan “Pak Iqbal”, beliau adalah Kepala Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UMY yang sekaligus mengampu beberapa mata kuliah penting di Jurusan ini.
Dosen yang sekaligus Kajur ini bernama lengkap Fajar Iqbal, dengan embel-embel “M.Si” lulusan UI Jurusan Komunikasi. Setelah berbincang dengan beliau, saya mulai sedikit memahami bahwa beliau adalah salah satu dari segelintir orang yang penuh dedikasi. Beliau yang sempat berceritaa tentang masa lalunya yang berpindah-pindah kota, mengaku bahwa dirinya adalah orang yang cenderung perfeksionis. Beliau orang yang detail, dan mungkin karena itulah banyak mahasiswa yang mengaku “susah dapat nilai” dari beliau. Namun dibalik perfeksionis dan dedikasi tinggi yang membuatnya terkesan sangat disiplin, beliau adalah seorang pribadi yang menyenangkan. Berbincang-bincang dengan beliau adalah hal yang sangat menyenangkan dan membuka pandangan saya. Pria berbintang cancer ini, mengaku kalau “dulunya” ingin menjadi seorang pilot. Namun seiring waktu, pengalaman, motivasi, dan dedikasi yang terbangun dalam dirinya, akhirnya mengantarkannya pada profesi sebagai dosen seperti sekarang ini.
Pria kelahiran Jayapura ini, juga memaparkan bahwa perjalanan hidupnya banyak dipengaruhi lingkungannya. Beliau belajar banyak dari almarhum ayahandanya dan beliau ini rupanya salah seorang yang selalu mengambil petuah-petuah dari kejadian yang beliau alami dalam hidupnya. Dari percakapan singkat saya dengan beliau, saya langsung tahu kalau beliau adalah tipikal orang yang suka membaca, dan selalu berpegang pada agama.
rupanya selain banyak belajar, banyak berusaha dan mengambil hikmah, beliau juga selalu minta petunjuk Sang Kholiq untuk selalu memberikan yang terbaik bagi beliau.
Beliau berpesan kepada kita semua, para calon “orang sukses” (amin), untuk tidak menyerah, selalu berusaha menggali dan menggali potensi yang kita miliki, dengan diiringi do’a dan ikhtiar, sehingga sampailah kita pada jalan kesuksesan kita. Setiap orang punya jalan kesuksesannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu ia wajib berjuang untuk mencari dan menemukannya. (intan Linggaratri)
Dosen yang satu ini adalah salah satu dosen pertama yang mengajar di komunikasi UMY. Mahasiswa mengenal dosen lulusan S1 komunikasi UGM ini sebagai dosen yang tegas, disiplin, dan sangat stylish. Dosen yang selalu pede dengan penampilannya ini, mempunyai sedikit cerita mengapa memilih komunikasi dan menjadi dosen. Sebenarnya beliau ingin mengambil psikologi tetapi karena sedikit buta warna, beliau mengambil jurusan komunikasi. Karena komunikasi yang paling dekat dengan psikologi dan selalu berhubungan dengan orang. Walaupun pada saat itu komunikasi identik dengan jurnalistik tetapi beliau yakin bahwa ilmu ini akan berkembang. Hal ini didukung dengan diterimanya beliau di UGM tanpa tes sehingga sangat sayang bila dilepas.
Setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di UGM , beliau pernah bekerja sebagai ilustrator di sebuah media di Jakarta. Karena latar belakang keluarga semuanya dosen, orang tua tidak mengijinkan akhirnya beliau mendaftarkan diri menjadi dosen komunikasi yang kebetulan di UMY membuka pendaftaran. Sampai sekarang beliau juga masih eksis mengajar.
Perempuan kelahiran Yogyakarta 3 Maret 1969 ini mempunyai hobby yang unik,” Memelihara kucing”. Berangkat dari hobinya inilah beliau kerap mengikuti berbagai workshop yang bersangkutan dengan kucing. Kecintaannya pada hewan lucu berkumis ini membuat beliau selalu memberikan perhatiannya kepada empat ekor kucing yang dimilikinya, sehingga beliau menjadi sedikit terhibur dibalik kesibukannya dan bahkan berencana membuka bisnis peternakan kucing. Dosen yang acap kali dipanggil “Miss Sovie “ dengan teman sejawatnya ini juga hobby berolahraga yaitu fitness. Beliau menyempatkan diri seminggu 3kali untuk melakukan kegiatan yang menyehatkan ini. Dosen yang selalu pede dengan penampilannya ini juga mempunyai keinginan berbisnis seputar kegiatan tersebut. Beliau berencana membuka gym, hal ini didukung dengan lengkapnya alat-alat fitness yang dimilikinya.
Beliau juga mengaku, bahwa pertemuannya dengan sang mantan pacar di UMY adalah karena “kesasar membawa berkah”. Sang suami yang awalnya adalah salah satu dosen di UMY, pada akhirnya memilih berkarier sebagai musisi. Hal ini juga masih menyisakan rasa penasaran ibu yang satu ini karena mendapatkan pendamping hidup yang background-nya berbeda jauh dengan dirinya. “Iya, saya juga masih bingung…kok bisa ya? Wah, kesasar membawa berkah.” Cerita bu Sovi sambil tersenyum simpul.(Triska April Melia).
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) itu ternyata udah ada dari dulu. Tapi organsasi yang sekarang di pimpin oleh Mas M.Irsal Zainal sebagai gubernurnya ini, sempet vacum slama 2 tahun dengan alasan kekosongan pemerintah dan pernah terjadi ketidak jujuran pada saat pemilu 2004. Layaknya sebuah Negara, BEM mempunyai struktur organisasi yang sangat unik misalnya aja ketua BEM yang disebut Gubernur dan wakil ketua yang disebut Sekjen. Selain itu BEM juga melakukan PEMILU saat pemilihan ketua baru Yang menjadi calon juga bukan sembarangan orang tapi harus dari perwakilan setiap Parpol. Saat ini Parpol yang udah lahir di Fisipol ada 3. Yaitu BSM,PAM,dan PITA, nah Mas Irsal ini dulunya perwakilan dari Parpol PAM.
Untuk menjadi ketua BEM harus punya kriteria yang udah ditentuin, yaitu harus jadi mahasiswa yang aktiv ,biar dikenal banyak orang,jadi gampang cari pendukung waktu pemilu nanti. Terus juga harus dari mahasiswa Fisipol tentunya. Pemilu dilakukan tiap 1 tahun sekali,dan untuk tahun ini pemilu akan dilaksanakan pada bulan Mei. Untuk melaksanakan pemilu ini,ternyata BEM juga punya team KPU nya. Udah kayak pemilihan Presiden aja yah.
Agenda akhir untuk kepemimpinan Mas Irsal ini diantaranya akan diadakannya seminar nasional yang membahas masalah Kepemimpinan untuk tahun 2009 dan eksebisi debat yang akan dilakukan pada akhir bulan maret ini. Agenda BEM yang lainnya adalah Pers media,selain itu BEM juga berencana untuk mengadakan Festival music yang dikasih nama ORDAS., dan masih ada lagi beberapa agenda yang akan dilakukan menjelang akhir kepemimpinan sang Gubernur yang lahir di Makasar ini.
Mas Irsal sih sangat berharap kalo kepemimpinannya akan dilanjutkan sama orang orang yang tepat, biar BEM kita ini gak terjadi kekosongan lagi. (Aya Sofia)
Mengawali karier sebagai dosen pada tahun 1996 di Universitas Mercubuana Yogyakarta, telah membawa ibu yang satu ini menjadi Dosen PNS(Pegawai Negeri Sipil-red) di tahun 2005. Multi talent woman, itulah beliau, Ibu Yeni Rosilawati. Dikenal dengan sapaan “Bu Yeni”, beliau mengawali karier PNS-nya sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada saat ini, wanita kelahiran Yogyakarta, 13 Juni 1973 ini menjadi dosen di Fisipol UMY.
Wanita karier yang selalu mebagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya ini, rupanya mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup unik. Beliau menempuh Strata Satu Komunikasi UGM (Universitas Gadjah Mada) pada tahun 1996 dan sekaligus menyelesaikan studinya di Jurusan Manajemen UII(Universitas Islam Indonesia)pada tahun 1997, disusul Gelar MM(Magister Management) UGM pada tahun 2002. Prestasi yang luar biasa. Asam garam kehidupan telah dirasakan beliau dan hal ini membuat beliau semakin matang untuk memantapkan langkahnya.
Beliau mengaku, banyak kendala yang dirasakan ketika harus memberikan pengabdian di bidang pendidikan yang beliau jalani sekarang ini. Namun demikian, beliau juga memiliki berbagai cara untuk memotivasi para mahasiswa yang mungkin agak “seret”. Beliau sering mengajak mahasiswa berstudi kasus agar lebih memahami materi yang beliau berikan.
Ada sebuah kalimat yang sampai sekarang masih berkesan bagi beliau. Kalimat tersebut terlontar dari mahasiswanya yang telah sukses berkarier di Departemen Keuangan. “Ibu, terimakasih atas ilmu yang telah Ibu berikan pada saya, hingga saya bias sukses seperti sekarang”, ucapnya mengenang kalimat itu. Dosen pengampu mata kuliah Management ini punya mimpi untuk meningkatkan akreditasi Jurusan Ilmu Komunikasi UMY. “Keep you spirit!! Saling menjaga kebersamaan dan kekompakkan, karena jika kita sudah terpisah dan mempunyai jalan hidup masing-masing pasti suatu saat kita merindukan momen-momen sewaktu kuliah dulu, rasanya pasti ingin kembali bertemu dengan sahabat-sahabat kita”, pesan Bu Yeni kepada kita semua. (M.Shaktivan)
Kini ku mulai mengerti apa yang di takutkan teman-teman lelaki lain terhadapku, jawabannya mereka takut jatuh cinta terhadapku. Karena aku memiliki semua pesona yang ditawarkan wanita pada umumnya. Jika aku berkehendak, aku bisa dengan mudah membuat parasku secantik wanita Indonesia, tubuhku sesexy makhluk Tuhan yang paling sexy. Hanya saja, satu yang tak kumiliki dari semua wanita, sesuatu yang telah ditakdirkan tuhan sebagai identitas autentic wanita. “It’s true!!!” Vitalitas wanita, tempat tuhan menitipkan calon hambaNya kepada wanita yang menjadi orang tuanya yang tentunya juga menjadi daya tarik wanita bagi adamnya.
Begitu saja aku tercipta di dunia. Hingga aku mendengar dari seseorang yang memanggilku dengan sebutan banci, “aku agam bukan banci!” Gumamku lima belas tahun yang lalu, saat usiaku lima tahun, yang tak tahu “banci itu apa?”. Kata banci terdengar asing waktu itu. Di taman kanak-kanak, organisasi perdanaku setelah keluarga aku sudah bersahabat dengan cemoohan. Mulai menjadi perguncingan teman-teman hingga menjadi “ kembang lambe” para ibu teman-teman yang lain. Tentu saja di usia yang baru sejengkal itu aku tidak tahu makna dunia lebih dari bernyanyi, tamasya dan bermain. Namun, aku sudah dapat melihat bagaimana ekspresi emosi orang-orang suruhan orang tuaku yang bergantian tugas menjagaku di taman kanak-kanak jika mendengarku di olok-olok.
Konotasi 'homo' dalam pembicaraan sehari2 terkesan kasar. Sama seperti orang Tioghoa dipanggil Cina. Atau orang Afrika dipanggil Negro.
Jika anda seorang gay dan pergi ke psikolog banyak orang menghargai anda sebagai orang yang idealis. Tetapi tidak sedikit pula yang meremehkan kesungguhan niat baik anda.
Jika anda seorang gay, “kamu salah jika hidup di Indonesia”. Sepenggal kalimat ambigu yang saya dengar dari seorang dokter psikolog pribadi saya di salah satu RS kenamaan di Jogjakarta. Melihat muka binggung saya, kemudian beliau melanjutkan pernyataannya. “ ini Indonesia bukan Amerika tanah kebebasan, di Indonesia terdapat norma-norma sosial yang menjadi budaya dan di taati. Jika seorang lelaki memiliki hubungan intim dengan lelaki lainnya, tentunya ini bertentangan dengan norma-norma sosial. Setelah 2 jam konsultasi, akhirnya sang psikolog mengakhiri perbincangannya dengan saya dan mengatur pertemuan kami selanjutnya. Pulang dengan hati tidak puas, kemudian hari berikutnya saya menemui salah seorang teman binan. Saya bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang psikolog, teman saya malah tertawa dan menganggap saya ini ada-ada saja. Komentar teman saya waktu itu, hanya meyakinkan saya untuk menerima diri saya sendiri seperti yang sudah-sudah.
Di satu sisi saya setuju dengan id saya, yang sependapat dengan teman saya. Di satu sisi, superego saya mengatakan hal yang berlawanan seperti yang dikatakan psikolog saya. Capek hidup dengan image buruk membuat hari-hari yang saya berat untuk di jalani. Bagaimana tidak? Sewaktu hari pertama masuk kampus, semua mata tertuju pada saya dan menertawakan saya. Sakit sekali rasanya, dalam hati kecil yang terberdaya ku bertanya pada diriku sendiri “ apa yang salah dengan diriku ? apakah mereka tidak tahu, bahwa sudah ada orang seperti aku sebelum aku ?”. Atau sewaktu masuk mall, sepasang kekasih berdebat tentang diri saya. Si pria berkata “ coba lihat, orang di samping kita ! Cewek atau cowok ?” si wanita menjawab “cewek”, namun si pria menjawab lain “cowok”, hingga mereka berdebat pendapat saat melihatku dengan celana jeans, tanktop hitam, blazer coklat, sedikit foundation serta lipice dan rambut yang sudah di ion. Hal-hal kecil itulah sebagai stressor bagi saya untuk menulis paper bertema binan ini.
Kalau anda ada waktu luang, coba tanyakan hal yang sama pada binan yang andai temui di kampus, resto pertokoan elite atau klub malam gay. Mengapa anda menjadi binan seperti saat ini ? Apakah dunia telah kehabisan wanita untuk di nikmati ? Kalau boleh saya tebak, jawabannya rata-rata seperti ini, “sampai sekarang pun saya tidak menemukan jawaban mengapa saya lebih tertarik kepada lelaki dan tidak berhasrat terhadap wanita, seperti wanita pada umumnya, saya mencintai lelaki saya seperti kekasih wanita anda mencintai anda.” Lain halnya jika di tanyakan pada waria yang anda temui di sepanjang jalan depan Bank Indonesia atau gerombolan waria pengamen di bundaran UGM sore hari, anda pun tahu jawabannya pasti faktor ekonomi. Stutment ini menunjukkan bahwa beda status sosialnya beda jawabannya. Atau seperti kata pepatah “ lain ladang, lain belalang”.
Binan juga seperti manusia pada umumnya, juga memiliki mata, telinga dan perasaan. Hanya saja orientasi sex mereka yang tidak seperti lelaki umumnya. Setidaknya lebih baik dari pada “kepergoknya” seorang pemuda yang sedang memperkosa seekor babi betina. Kabar mengagetkan yang pernah saya baca di Koran lokal di Jogjakarta atau seorang wanita hypersex, yang sering ganti-ganti pasangan yang mengatasnamakan kawin sirihnya sebagai “topeng”. Bahkan kabar yang lebih ekstrem lagi datang dari sumber yang terpercaya seperti Cosmopolitan terbitan januari 2009. Menurut research membuktikan hewan juga memiliki kemungkinan kelainan seksual, yaitu homoseksual. Mencenangkan memang, tapi ini sebuah realita.
Binan Jalanan VS Binan Elite VS Binan Psikopath
Image binan yang telah terlanjur buruk, tersurat sejak zaman nabi luth masih bermukim di kota Sodom-Yordania, yang sekarang peninggalannya di sebut Laut Mati ini, semakin di perburuk dengan icon binan di pertelevisian Indonesia yang menggambarkan binan sebagai “badut” tempat untuk olok-olokkan dan tertawaan. Sebut saja peran (amg) di (extrvgz), walaupun menghibur namun sayang bukan hiburan yang pintar. Hiburan yang mendiskriminasikan binan. Di tambah pemberitaan (ryn jmbg) icon gay 2008 yang memutilasi orang untuk mengambil harta korbannya. Saya kurang setuju dengan pandangan masyarakat bila mestereotype-kan semua gay seperti (ryn), suara saya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, setelah gencar pemberitaan (ryn) di media yang semakin mendiskriminasikan kaum gay, ikatan waria dan gay di Jogja berunjuk rasa di gedung agung. Mereka menyatakan bahwa terlepas dari gay atau bukan, (ryn) memang seorang psikopat. Andai pun (ryn) bukan seorang gay, tetap saja dia akan melakukan hal yang sama seperti yang di beritakan selama ini.
Pencitraan buruk binan sebagai sampah masyarakat ternyata tidak sampai di sini saja, terbukti masyarakat cenderung menganggap binan tidak mempunyai harga diri. Tidak lebih dari gerombolan pelacur murahan dan pengamen jalanan. Wajah Madona kaki Maradona, joke lucu yang sering saya dengar dari kawan. Bukan salah masyarakat juga sebenarnya, hak mereka juga untuk berpendapat. Dari waria yang sering saya jumpai di jalan, memang mempunyai konsep diri yang buruk bahkan sempat membuat saya sendiri tidak tahan geli melihat dandanan dan tingkah laku mereka. Tapi, tunggu dulu! gay yang mana yang menjadi “badut” dan tidak menjadi “badut” ?. Harusnya bisa dibedakan, jangan sampai image waria jalanan ini juga merusak reputasi gay yang berpendidikan. Seperti halnya wanita kupu-kupu malam, tidak semua wanita seperti itu yang menjajakan diri hanya dengan beberapa lembar rupiah saja, apakah anda tidak marah apabila kekasih wanita anda yang berprofesi di dunia entertainment sebagai anggota Batavia dancer yang di tuntut berpakaian sexy di perlakukan lelaki sama seperti jika memperlakukan wanita kupu-kupu malam? Kalau boleh saya tebak, anda tidak akan tinggal diam saja.
Ada banyak faktor ternyata di dunia ini yang tidak kita ketahui yang melatar belakangi tindakan seseorang, hingga pada akhirnya orang lain melihat dan menilai di anggap tabu atau tidak. Apakah anda tahu jika tidak demikian, si wanita kupu-kupu malam tidak bisa menghidupi anaknya? Apakah anda juga tahu bahwa ada diskriminasi di perusahaan yang tidak mengizinkan seorang binan bekerja selayaknya manusia beradab lainnya, sehingga mereka hanya bisa menjual keahlian seks seorang wanita imitasi? Kalau anda tahu akan hal itu mungkin mereka rela bila di tertawakan, karena memang begitu kenyataannya.
Setidaknya akhir-akhir ini saya cukup lega dengan ameliorasi citra binan dimata masyarakat. Sebut saja (ivn gnwn), siapa orang Indonesia yang tidak tahu perannya sebagai (mdm ivn) di life show musical televisi Indonesia? Sebagai binan yang berprofesi sebagai artis papan atas dan designer creative, yang kreatifitasnya di akui artis-artis Indonesia ini mampu menunjukan eksistensinya sebagai binan elite. Yang membanggakan dari (ivn) bagi saya, dia mampu menjadi komentator acara yang handal sebagai (nn ign atau mdm ivn). Hiburan edukatif ini menggambarkan sosok (mdm ivn) yang suaranya mampu memberikan kontribusi pada peserta dan di dengar oleh Indonesia. Tidak kalah pamornya dari (ivn), kisah sukses datang dari daerah. Sebagai direktur perusahaan (mrt kmps, mrt btk, mrt bkry), (HS) mampu menunjukkan eksistensinya pada masyarakat Jogja khususnya, bahwa dia juga bisa menjadi “orang”, bahkan perusahaannya yang memberikan omzet milyaran perbulannya menjadi salah satu perusahaan terkemuka di jogja. Merambah dari artis binan daerah ke artis nasional pernah di lakukan (lwr), binan kreatif asal kota Solo yang tidak mau image dirinya di samakan dengan binan murahan membawanya menjadi artis nasional pendatang baru. Kecantikan dan kepandaiannya dalam menari mampu mengambil hati para penontonnya yang lupa bahwa dirinya hanya wanita imitasi. Di bidang politik, (GSP) sikap, tindakan, pikiran dan suara beliau turut menentukan nasib bangsa. Tidak ketinggalan idolaku yang saya kagumi. Presenter termahal di acara (dhsyt) dan mampu mensejajarkan diri dengan artis papan atas seperti Luna Maya atau Rafi Ahmad. Memberikan pemahaman image binan yang baru, segar, edukatif dan tidak ada unsur diskriminasi binan apalagi menjadi “badut acara”. Pintar, menyenangkan dan gila, setidaknya itu pencitraanku terhadap (olg). Duta Indonesia di ajang internasional Miss Tiffany Universe, “it’s true…” (Mrln spjn). Ratu waria Indonesia ini mampu menunjukkan sisi lain waria yang selama ini tertutupi oleh image buruk masyarakat Indonesia tentang image waria jalanan. Brain, behaviour dan beauty ( pintar, sikap dan kecantikan) membawanya terbang ke Thailand mewakili Indonesia sebagai waria yang berdedikasi tinggi. Tanpa kepintaran dan kecantikan, sulit rasanya bagi (Mrln) mewakili Indonesia di ajang bergengsi itu. Buku-buku yang ditulisnya pun menambah refrensi panjang daftar buku karya Indonesia. Satu lagi, datang dari negara (ERP). Anda, saya, semua orang tahu bahwa seorang presiden adalah pilihan rakyat, begitu juga untuk menjadi presiden bukan semudah menulis paper ini dan tentunya memiliki segudang prestasi yang membawanya duduk di strata sosial tertinggi manusia. Apa salahnya jika seorang presiden salah satu Negara maju di (ERP) seorang gay? Di (jrmn) tidak ada yang memperdulikan itu, dan tidak seperti di Indonesia yang menggangap tabu akan hal itu. Strata prestigious di salah satu Negara (ERP) sudah mampu di tembus oleh kaum gay. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh binan lain.
Apakah hanya karena orientasi sex-nya yang interpersonal ? sehingga kita menutup mata atas prestasi-prestasi yang dengan tidak mudah di raihnya selama ini. Bukankah semua orang memiliki kekurangan ? saya, anda, bapak-ibu kita di rumah, penggemis hingga Presiden. Kadang sedih melihat waria jalanan tersenyum manis di depan orang-orang yang menertawakannya, melecehkannya dan hanya menganggap mereka tidak lebih dari topeng monyet, kalau kita bisa melihat jauh ke dalam hati waria itu rasanya pasti sakit sekali, rasa sakitnya seolah tidak di rasakannya karena kelaparan yang mereka rasakan sudah melatih mental mereka. Atau apakah harga diri kita ? sehingga kita tidak mau mengakui keunggulan mereka yang jauh di atas kita, dimana mereka selama ini menduduki kasta paling rendah dan kita sebagai kasta tertinggi merasa terancam. Mereka hanya membuktikan saja pada dunia, bahwa mereka bukan sampah dan “well” mereka menepati janjinya.
Apakah binan masih di anggap sampah masyarakat? apakah binan masih tidak lebih dari gerombolan pelacur murahan? apakah binan lebih buruk dari anda sendiri? Saya yakin anda mempunyai jawabannya, dan simpan saja di hati anda. Tidak lebih membuka cakrawala pengetahuan anda tentang binan. Agar anda tidak menjadi orang yang dangkal pengetahuan tentang binan. Sedikit dari saya, dari semua binan yang saya sebutkan, saya paling salut kepada waria jalanan. Mereka secara mental sudah siap untuk di komentari, di hina , di tertawakan dan di lecehkan. Mereka mampu menunjukkan eksistensi dirinya kepada dunia, tanpa memakai “topeng” seperti yang di lakukan orang pada umumnya. Jauh lebih dari itu, mereka adalah sebagian kecil yang mampu “melawan” pada diskriminasi karakter. Mereka yang menentukan nasib mereka sendiri, hidup tidak sebagai korban pembunuhan karakter.
“Binan = / - Tabu?”
Melihat dan mendengar isu tentang penyimpangan sex yang menimpa pada kru film, sutradara, artis sinetron, produsen, manager, HRD perusahaan, direktur, mahasiswa, pekerja kantor, kalangan “jet set”, kalangan bawah hingga Presiden sudah saya dengar. Bukankah dari banyak latar belakang profesi setidaknya sudah ada icon binannya? Bukan sesuatu yang baru lagi bukan? Jadi dimana bagian yang di anggap tabu? kalau binan di Indonesia sudah banyak. Jika hak asasi hidup binan telah di akui di Indonesia secara de facto, kini yang di anggap tabu cenderung ke status hubungan mereka. Seperti selama ini, hubungan gay di Indonesia selayaknya sepasang pria dan wanita “kumpul kebo” tidak ada statusnya. Sehingga inilah yang di resahkan oleh sebagian besar masyarakat kita, masyarakat cenderung takut terhadap ketidakpastiaan status hubungan. Lain halnya seperti Negara-negara lain seperti Jerman, Belanda, Amerika, China, Australia, Thailand yang telah mengesahkan hubungan perkawinan antar lelaki, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan kekhawatiran.
Melihat keberadaan binan di tengah masyarakat yang heterogen, membuat saya bertanya pada Sang Pencipta. “Tuhan, menciptakan makhluk yang sempurna bukan sesuatu yang mustahil bagi Engkau. Tapi mengapa engkau menciptakan ketidak sempurnaan ini? Yang malah akan membuat orang yang tidak Engkau lahirkan dengan sempurna hanya akan membenciMu karena Engkau tidak adil bagi mereka”. Setelah sekian lama menanti sebuah jawaban itu, akhirnya ilham Tuhan datang juga kepadaku. Kini ku mulai mengerti, kenapa binan tercipta untuk dunia ini. Alasannya Cuma satu, agar hamba-hambaNya yang lain dapat melihat kuasaNya dan bersyukur atasNya karena telah di ciptakan secara sempurna. Bahwa diatas cobaan yang di berikanNya kepada kita, masih ada yang tidak seberuntung dari kita. Walaupun demikian saya masih bisa bersyukur pada Tuhan, karena perjalanan hidupku pun selalu dimudahkanNya. Hal inilah yang menyadarkan saya, bahwa apa yang dikatakan guru agama saya sewaktu duduk di bangku sekolah adalah suatu kebenaran, bukan isapan jempol. Bahwa Tuhan itu Maha Adil, tentuNya dengan kuasaNya pula saya bisa memaknai hidup saya ini indah. Dengan kesabaran menghadapi cobaanNya, saya yakin Tuhan menepati janjinya untuk saya dan anda juga tentunya. Bagi yang menjalankan cobaanNya dengan sabar, telah di janjikanNya surga.
“Topeng Sosial”
Seperti kasusnya, anggota DPR yang bersikap pengecut tidak mau mengakui kesalahannya karena korupsi, walaupun sudah ada bukti oleh KPK dan berbuntut panjang di meja hijau. Atau yang secara tegas menyatakan berpoligami oleh ustadz kenamaan di Jawa Barat, yang di dalam agama islam pun sah-sah saja seorang pria melakukan poligami. Unik benar Indonesia ini, walaupun agama membenarkan hukum berpoligami namun masyarakat kita memandang itu sebagai sesuatu yang tabu. Yang sah-sah saja di anggap tabu, apalagi yang ekstrem bukan?
Dalam kasus binan, karena takut akan norma-norma sosial, banyak teman-teman binan yang melakukan perkawinan dengan wanita. Herannya juga dapat menghasilkan keturunan, walaupun hanya sebagai “topeng sosial”. Malamnya sewaktu telah menidurkan anaknya, sang binan pindah kamar ke kekasih sejatinya dan meninggalkan sang istri yang menemani anaknya tidur. Begitulah gambaran pengecut binan yang saya dapatkan dari psikolog pribadi saya. Atau seperti para kontestan miss waria, dengan keberaniannya dibalik keanggunan wanita imitasi berlenggak-lenggok di catlwalk dan seolah berkata pada dunia, ini aku. Aku ada dengan segala kekuranganku yang ku jadikan segala kelebihanku.
Binan yang professional biasanya bersifat ekslusif, mereka tidak mau sembarang orang tahu akan orientasi sexnya yang menyimpang kata orang. Mereka berkomunikasi antara binan satu dengan yang lain dengan symbol, symbol yang menandakan bahwa mereka adalah binan. Seperti memakai anting di sebelah di telinga kanan, melepas beberapa kancing kemejanya dan atau mengenakan sapu tangan di saku celana belakang (google.com)
Apresiasi Pekerja Film dan Seniman Untuk Binan Sayang
Tidak ketinggalan apresiasi para novelis kenamaan Indonesia seperti Andrei aksana, Merlyn sopjan, Andre aciman yang telah melahirkan karya tulisan mereka dalam novel yang berjudul lelaki terindah, cinta terlarang, banci juga manusia, jangan lepas jilbabku dan perempuan tanpa V. yang benang merahnya melihat gay, binan, waria, banci, saci atau apalah sebutannya, dari segi interpersonalnya yang unik. Bahwa mereka ada dengan segala keunikannya, jauh sebelum kakek atau nenek kita lahir di bumi. Tepatnya sejak zaman nabi luth menyebutnya sebagai kaum liwath.
Juga tidak ketinggalan perlakuan musisi Indonesia yang melihat keberadaan kaum lelaki cantik ini wajar-wajar saja, seperti yang tertuang dalam karya lagu jangan ganggu banci oleh project pop dan wanita terindah oleh pingkan mambo untuk kaum lesbi.
Dari dunia perfilman nasional dan internasional juga melahirkan karya film terbaiknya tentang binan. Seperti di film coklat strawberry (Indonesia), no regret (Korea), frozen flower (Korea), east palace-west palace (China), fragile in love (Taiwan), the wedding banquet (Taiwan), queer as folk dan masih banyak lagi karya-karya perfilman yang bertemakan gay.
Tentang Penulis
Tidak menamatkan sebagai lulusan sarjana ekonomi di UII, ternyata membawa kesan lain bagi saya di fakultas fisipol UMY. Saya memiliki rasa senasib dengan kampus ini, dan terkadang semangat misi kampus ini mampu menyentuh sanubari saya. Kampus yang berusaha menunjukkan pada dunia, bahwa kampus ini juga “bisa” dan tak kalah bagusnya dengan kampus prestigious lainnya seperti UI, UGM, ITB, UNDIP maupun UII. Bahkan mampu menghasilkan fresh graduate yang lebih berkompeten dari lulusan kampus lain. Seperti kita ketahui, kenapa UMY bisa seperti itu? dan apa yang memotivasinya untuk mencapai visi tersebut? Tidak terlahir begitu saja, berangkat seperti saya yang tidak mau di pandang sebelah mata berusaha menunjukkan eksistensi di bidang prestasi. Alhasil, apa yang di cita-citakannya pun terwujud. Setelah itu sensasi kepuasan luar biasa di rasakan.
Berangkat dari permintaan seorang teman untuk menulis artikel di blog kelas, akhirnya kurang dari seminggu paper bergenre psikology komunikasi, bertema binan dan berjudul Pesona Mahakarya Sang Pencipta ini, tepat selesai sehari dari waktu yang di telah di tentukan. Paper yang saya tulis kali ini, adalah paper bertema binan kedua yang pernah saya tulis setelah paper pertama saya sewaktu duduk di bangku SMA. Dengan kemajuan pemahaman tentang etika menulis tentunya isi paper kedua saya ini lebih kompeten dari pada paper pertama saya.
Bukan sebagai basa-basi, tentunya paper ini jauh dari kesempurnan. Saya lebih berkonsentrasi pada isi paper di bandingkan etika penulisan yang saya pelajari di mata kuliah dasar-dasar jurnalistik atau metode penelitian sosial. Dengan keterbatasan waktu dan keterbatasan pengetahuan, saya berusaha menyelesaikan paper ini tepat waktu di tengah kesibukan saya sebagai mahasiswa semester 2. Oleh karenanya, bagi pembaca yang paham akan makna tulisan ini, saya harapkan masukannya, agar di masa yang akan datang saya mampu menulis artikel yang lebih sempurna lagi dari pada yang sekarang. Atas apresiasinya terhadap paper yang saya tulis, saya ucapkan terimakasih dan semoga kehidupan menjadi lebih baik.
Agam Abrianto (20080530031)
DOSEN
Fajar Iqbal ~ Dosen yang Penuh Dedikasi
Firly annisa ~ Pengalaman yang tidak terlupakan
Muria Endah ~ Mengajar untuk Belajar
Sovie ~ Kesasar membawa berkah
Yeni Rosilawati ~ "Keep your Spirit
MAHASISWA
Agam Abrianto (20080530031) ~ Pesona Mahakarya Sang Pencipta
M.Irsal Zainal (Ketua BEM) ~ BEM, Pemerintahan FISIPOL
Firly Annisa14 jam untuk 30 menit yang berharga di bulan September lalu adalah pengalaman pertama perempuan kelahiran Gresik, Jawa Timur, 15 Agustus 1984 yang tinggal di Bantul ini sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah kelulusan S1-nya dari almamater tersebut, Dia berkunjung ke Tanah Eropa. Dara cantik yang pintar, disiplin, dan tegas namun takut naik pesawat ini, berbagi suatu hal yang tak akan pernah Ia lupakan dalam hidupnya.
Berawal dari rasa iri kepada salah satu rekan kerjanya yang pergi ke Inggris, menjadikan Firly Annisa atau yang akrab disapa Firly ini sebagai satu-satunya Pembicara Panel tentang Fashion Islam perwakilan dari ASIA di International Conference yang dikagumi banyak Dosen Luar Negri karena penampilannya yang luar biasa saat memresentasikan sebuah karyanya berupa “The Representation of Fashion as Muslimah Identity in PARAS Magazine” tanpa teks di Frei University of Berlin, yang rencananya akan dipublikasikan pada musim gugur tahun 2009 ini bertempat di Cambridge University, England.
Tak luput dari peran komunikasi sebagai alat penghubung satu dengan yang lainnya. Berkat bantuan Ratna Noviani-lah, seorang Firly dapat berdiri di depan banyak orang hebat, memberi majalah PARAS kepada beberapa orang di antara mereka, dan mendapat banyak teman dari berbagai negara, Turki, Jerman, Amerika, Polandia, Inggris, dan seorang moderatornya yang baik hati dari Israel.
“Banyak yang perlu dilatih ketika kita menjadi seseorang yang berada di lingkungan yang begitu luas dan tidak kita kenal latar belakangnya, oleh karenanya sebagai generasi yang memiliki harapan dan tujuan yang luas pula, sangatlah perlu meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri, mampu memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan sebaik mungkin, lakukan apa yang ingin dilakukan sesuai bakat dan minat masing-masing, aktif dan jangan melupakan membaca!” itulah kiranya pesan yang kami tangkap dari tutur katanya yang lembut. (Titta Nurannisa)


