KEKASIH CITRA
Citra, bukan nama sebenarnya. Seorang gadis berbadan besar dan berparas cantik. Salah seorang sahabat karib yang berhasil saya temui sore hari ini. Citra bersedia berbagi cerita dengan saya mengenai kekasihnya dan perlakuan orang terdekatnya terhadap kekasih barunya yang baru seumur jagung itu.
Menurut pengakuan Citra, kekasih barunya yang kata orang lebih mirip Budi Anduk ini sangat perhatian terhadapnya. Bagaimana tidak, sewaktu Citra digoda lelaki iseng, si Budi Anduk ini langsung memburu orang yang mempunyai nomor handphone itu. Dirinya tidak terima kekasih besarnya di perlakukan bak wanita murahan yang bisa diajak tidur orang dengan hanya lewat sms.
Dimata sahabat, tetangga dan orang tua Citra, Adi nama sebenarnya kekasih Citra, tidak lebih ganteng dari mantan kekasih Citra yang sebelumnya. Hanya saja si Adi mempunyai kelebihan lain, selain pengertian dan perhatiannya pada Citra. Sebut saja Honda Jazz berwarna “kopi susu” ber-plat nomor polisi wilayah Jogja, selalu menemani hari-harinya bersama Citra sewaktu berkunjung kerumah atau sewaktu jalan-jalan ke cafe, klub malam, mall atau tempat yang menyenangkan lainnya.
Bagi Citra sendiri, tidak begitu mempermasalahkan fisik kekasihnya yang berbadan besar, muka tidak lebih ganteng dari Budi Anduk, atau kesahajaannya dalam berpakaian. Citra membuktikan pada saya, bahwa di samping kekurangan fisik kekasihnya, dia mampu membelikan t-shirt polo dari Planet Surf toko baju prestigious untuk adik lelakinya. Atau setidaknya, dalam hubungan pacaran mereka, si Adi mampu menunjukkan eksistensinya sebagai orang berada dengan menggandeng Citra hanya sekedar makan malam di Empire atau closing party di Caesar Cafe.
“Sepertinya saya menelan ludah saya sendiri deh agam…” kalimat pertama yang keluar dari bibir sexynya sewaktu saya mintai tolong untuk menjadi komunikan saya. “ Dulu, Vio teman kita pernah bertanya mengenai kekasih” lanjutnya bercerita. “ Dia bilang, Citra lebih memilih mana? Pria tampan tapi miskin atau pria jelek tapi kaya ? jawabku waktu itu tentu pilihan yang pertama.” tambahnya. “ Tapi sekarang, saya mendapati pilihan yang kedua itu.” Tutupnya sembari tersenyum tersipu kepadaku.
Hujan yang cukup membasahi orang berkendara motor sore itu, nampak sebagai tirai yang menemani kami mengobrol di cafetaria yang terletak depan kampus STIE YKPN jalan seturan itu. Di area hotspot inilah, Citra berbagi gambar foto kekasihnya yang nampak dari layar apple 14 incinya. “hahahahahahaha” kalimat pertama yang keluar dari mulut saya sewaktu melihat wajah kekasihnya yang benar apa kata orang bahwa mirip dengan Budi Anduk. “wah parah Cit….” tuturku kepadanya. “ Tongkrongan bisa Honda jazz i-dsi tapi wajahnya tidak semanis mobilnya” celotehku yang Citra sudah tahu gaya candaanku.
Entah senyum lucu atau senyum palsu menutupi malu, Citra kemudian pergi membayar orderan kami di meja kasir yang hanya terletak beberapa kaki dari tempat duduk kami. “Ayo cabut cin…” serunya sambil mengulurkan kunci mobil station wagoonnya padaku, yang maksudnya saya yang di suruh membawakannya. Perlahan mobilnya yang saya kemudikan membawa kami melintasi jalan seturan yang mempunyai kesan bagi kami, dimana kami pernah mendorong mobil bersama karena macet, dan waktu itu tidak ada seseorang yang dapat menolong kami karena mobil yang kami kendarai waktu itu beraki kering yang membutuhkan charger aki untuk dapat berjalan lagi. Tepat di depan rumah tingkat dua berwarna orange, saya turun mobil dan mengucapkan terimakasih atas segalanya untuk Citra yang sudah bersedia berbagi kisah pribadinya dengan saya. Seraya berpindah ke tempat duduk mengemudi Citra sekali lagi tersenyum lebar dan membunyikan klakson mobilnya sebagai pertanda salam perpisahan pertemuannya dengan saya yang sudah menjelang malam itu.
Topik yang muncul diantaranya persepsi Citra terhadap kekasihnya yang pengertian dibandingkan mantan kekasihnya. Kedekataan hubungan yang baru seumur jagung ternyata tidak begitu pula dengan kedekatan emosional mereka. Di mata keluarga, tetangga dan teman Citra bahwa Adi merupakan seorang yang buruk rupa, namun diantara orang terdekat Citra mereka mengakui keunggulan sisi lain Adi. Sifat kemanusiaan yang tinggi serta dukungan finansial membuat mereka mulai menerima Adi.
Di awal ceritanya Citra begitu terbuka sehingga kedalaman topik yang kita alami tidak nampak, Citra sudah kenal baik dengan saya sewaktu masih sama-sama duduk di bangku SMA, bagi kita tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Rasa malu pun tidak kami rasakan sewaktu bercerita sekalipun hal itu sangat privacy. Jika pun ada, kedalaman topik justru timbul saat kami masih ingat kejadian masa silam saat kami pernah mendorong mobil yang macet di jalan pulang yang kita lewati kemarin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Response to "Agam Abrianto (20080530031)"
Posting Komentar
Terima Kasih yaa teman - teman sudah bersedia mampir di Blog kami. Alangkah lebih baiknya apabila meninggalkan sepatah dua patah kata di Blog kami. Di mohon untuk menuliskan Identitas penulisnya.